Kamis, 25 September 2014

FF XiuHan/Lumin Couple Chapter 1

Snow Angel

"Sepertinya aku harus menarik kata-kata ku ke Chanyeol tentang malaikat bersayap es itu. Dan aku benar-benar gila sekarang mempercayai perkataannya bila malaikat bersayap es itu memang benar adanya."

Rate : T

Genre : romance, fantasi

Main castnya bisa dilihat dicerita :3 siapa aja yang main :v

Warning : hanya sebuah imajinasi belaka, GS!, typo *maybe*, bila gag suka jangan baca!! No bash"-an!!


-Happy reading-


Seorang namja kurus berjalan santai sambil sesekali terdengar sebuah lirik lagu yang muncul dari bibir sang namja. Lorong sekolah yang masih begitu sepi membuat suara namja kurus itu terdengar begitu jelas mengikuti nada lagu yang dia dengar. "Luhan hyung!" Terdengar sebuah suara yang memanggil nama namja kurus itu. Luhan -namja kurus- tidak mendengar ada yang memanggilnya. Tiba-tiba sebuah tangan merangkul pundak Luhan yang membuatnya sedikit kaget. "Ck! Kau mengagetkan ku Park Chanyeol!" Namja yang disebut Park Chanyeol itu hanya terkekeh memperlihatkan deretan giginya yang kelewat rapi.

Sampainya mereka dikelas hanya ada keheningan yang terjadi. Luhan duduk dibangkunya dan Chanyeol hanya berdiri menghadap jendela memandangi arah luar. "Hyung..." Suara Chanyeol yang berat memecahkan keheningan. "Heem." Luhan masih sibuk dengan handphonenya. "Apakah kau pernah mendengar tentang malaikat yang memiliki sayap seperti es?" Luhan tetap sibuk dengan handphonenya. "Pernah. Tapi aku tidak peduli dengan hal seperti itu." Kini Chanyeol berbalik menghadap kearah Luhan. "Tapi bila dia benar-benar ada pasti itu sangat menakjubkan sekali. Aku ingin sekali bertemu dengannya." Luhan menyunggingkan senyum mengejek. "Mengapa hidupmu dipenuhi dengan hal-hal yang mustahil Park Chanyeol? Malaikat seperti itu tidak pernah ada didunia ini. Itu hanya sebuah cerita saja. Orang-orang hanya mengarang tentang malaikat es itu. Sudahlah kau jangan membicarakan hal-hal seperti ini lagi." Chanyeol hanya mengangguk pelan. "Kau benar hyung. Hal seperti itu pasti tidak pernah ada. Aku akan mengubur keinginan ku itu." Chanyeol berjalan lesu kearah pintu. "Aku kembali ke kelasku dulu hyung." Luhan hanya terkekeh melihat Chanyeol berjalan seperti tidak bernyawa. "Yakk Park Chanyeol! Semangatlah! Hal seperti itu jangan membuatmu down!" Chanyeol hanya menoleh dan kembali berjalan keluar kelas.

Waktu berlalu dan sekarang XOXO high school sudah dipenuhi dengan manusia berseragam sekolah khas XOXO high school. Berjas kuning sebagai seragam yang selalu menjadi kebanggaan sekolah itu. Dan kini dikelas Luhan sudah dipenuhi dengan suara-suara berisik dari semua murid yang sudah mengisi kekosongan ruang kelas. "Perhatian semuanya." Terdengar suara namja mengintruksi warga kelasnya untuk diam mendengarkan sebuah pengumuman yang akan dia berikan. "Hari ini, jam pelajaran pertama dan kedua kelas kita tidak ada guru. Cho seonsangnim dan Lee seonsangnim sedang ada diluar kota sekarang." Serentak semua murid yang mendengar pengumuman menggembirakan seperti itu langsung bersorak dengan gembira. "Tapi kalian jangan senang dulu. Guru kita meninggalkan sebuah tugas. Minggu depan tugasnya harus terkumpul semua." Nada yang tadi terlihat begitu bahagia langsung berubah menjadi sebuah lolongan tidak terima. "Hanya itu saja yang ingin aku sampaikan. Terima kasih kalian sudah mendengarkan pengumumannya." Namja yang berdiri didepan kelas berjalan kembali menuju ke tempat duduknya.

"Hyung kau mau kemana?" Tanya namja yang tadi berdiri didepan kelas. "Kau tau kan aku mau kemana?" Luhan lalu pergi meninggalkan Suho -namja yang berdiri didepan tadi- yang melongo melihat kepergian Luhan.

Luhan merebahkan dirinya diatap sekolah sambil menatap kearah langit yang menampakkan awan biru yang cerah. Luhan menutupi wajahnya dengan telapak tangan agar tidak terkena sinar mentari yang begitu silau hari ini. Menampakkan bayangan tangannya diwajahhnya yang tampan. "Hari ini begitu membosankan sekali." Kemudian dia menutup matanya untuk segera terlelap dalam buaian mimpi dipagi hari yang cerah.
-
-
-
-
Bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua murid XOXO high school langsung berhamburan keluar kelas untuk segera pulang kerumah mereka masing-masing. "Luhan hyung!" Nampak seorang namja berpostur tinggi dengan kulit yang begitu putih pucat sedang berjalan menghampiri Luhan. Disampingnya sudah ada Park Chanyeol dan seorang gadis cantik ber-eyeliner tebal  -Byun Baekhyun- menemani namja tinggi itu berjalan kearah Luhan. "Hyung bisakah kau menemaniku ke toko buku sekarang?" Luhan hanya menatap malas ketiga orang yang ada didepannya. "Baiklah. Tapi kau harus mentraktirku makan siang terlebih dahulu Sehun." Namja yang dipanggil Sehun menggangguk pasti. "Tentu saja hyung. Aku pasti akan mentraktirmu makan. Tenang saja." Sehun tersenyum senang. "Yakk Oh Sehun, mengapa hanya Luhan oppa saja yang ditraktir? Kita juga temanmu kan?" Tanya Baekhyun kesal. "Aigoo kau begitu manis sekali ketika sedang kesal Baekhyun-ah." Kata Chanyeol gemas. "Baiklah, baiklah. Aku akan mentraktir kalian semua. Kajja kita pergi." Luhan dkk melangkahkan kaki pergi meninggalkan sekolahnya.
-
-
-
-
Setelah Luhan dkk selesai dengan makan siang, mereka berlanjut mengantar Sehun ke toko buku. Terlihat Sehun sedang serius mencari buku yang dia cari. "Yakk Park Chanyeol, mengapa kau terus-terusan memandangi buku itu?" Suara Baekhyun membuat Luhan menoleh kearah Chanyeol. Saat ini Chanyeol sedang memandangi cover sebuah buku bergambar seorang malaikat cantik dengan sayap yang membeku seperti es. Luhan hanya tersenyum mengejek melihatnya. "Bukankah tadi pagi sudah kubilang, itu hanya sebuah cerita saja." Chanyeol menaruh buku itu dengan wajah sedih. "Bukankah kau sudah memiliki seorang malaikat disampingmu?" Bisik Luhan. "Nugu? Siapa yang hyung maksudkan itu?" Luhan menunjuk kearah Baekhyun yang sekarang berada disamping Sehun saat ini. Chanyeol mengikuti arah tunjukkan Luhan. Chanyeol kemudian tersenyum gembira mandapati orang yang dimaksud Luhan adalah Baekhyun. "Bukankah kau menyukainya?" Goda Luhan. "Yahh memang aku begitu menyukainya. Kau benar hyung, Baekhyun adalah seorang malaikat bagiku tapi tanpa sepasang sayap esnya." Luhan hanya menggeleng kepalanya mendengar Chanyeol terus saja membahas malaikat sayap es itu.

Hari semakin sore, Luhan dkk kini berjalan menuju kerumah masing-masing. "Hyung terima kasih kau sudah menemaniku ke toko buku hari ini." Luhan hanya menyahut dengan sebuah dehaman. "Yakk coba kalian lihat." Suara Baekhyun mengintrupsi untuk menghentikan langkah mereka. Baekhyun melangkahkan kakinya masuk kearah gang sempit yang gelap. 'Aku sepertinya melihat ada seseorang disini. Mengringis minta tolong' batin Baekhyun. Luhan, Sehun, dan Chanyeol mengikuti arah langkah Baekhyun masuk ke gang sempit itu. "Benar kan apa kata ku. Ada seseorang disini." Baekhyun langsung berlari menghampiri seseorang tersebut.

"Aigoo dia seorang yeoja. Dan mengapa keadaanmu seperti ini?" Baekhyun langsung mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkan wajah yeoja itu. "Baekhyun-ah, dia siapa? Kau mengenalnya?" Chanyeol duduk disamping Baekhyun. Mengamati yeoja yang sedang bersandar didinding gang. Chanyeol terus mengamati yeoja tersebut. Chanyeol melihat disekitar yeoja itu ada sebuah bulu tapi begitu kaku. Dia mengambil bulu itu dan....'Bukankah ini sebuah bulu? Tapi mengapa begitu dingin dan beku?' Batin Chanyeol. Dia kembali mengamati yeoja itu. "Sudahlah tinggalkan saja dia. Mungkin dia hanya seorang yang berpura-pura minta pertolongan lalu membohongi kita semua. Kajja Sehun kita pergi dari sini." Luhan merangkul pundak Sehun dan mereka berdua berjalan pergi meninggalkan Baekhyun dan Chanyeol yang sepertinya tidak menghiraukan keperian Luhan dan Sehun.

"Ini tidak mungkin!" Suara keras Chanyeol membuat Baekhyun kaget. "Yakk Park Chanyeol jangan berteriak seperti itu." Chanyeol hanya menunjukkan cengiran andalannya. "Tapi Baekhyun-ah...ini..ini benar-benar tidak mungkin kan?" Kini suara Chanyeol sedikit dia kecilkan. "Apanya yang tidak mungkin?" Baekhyun bertanya dengan malasnya. Jangan bilang kegilaan seorang Park Chanyeol kembali lagi. "Dia..." Chanyeol menunjuk yeoja yang ada dihadapan Baekhyun. Chanyeol mendekat pada Baekhyun dan berbisik padanya. "Dia adalah seorang malaikat bersayap es." Baekhyun masih terdiam mendengar ucapan Chanyeol. Lalu suara tawa meledak dari mulut seorang Byun Baekhyun.

"Sudah kuduga pasti kegilaanmu muncul Chanyeol."

"Aku tidak gila Baekhyun-ah. Coba kau lihat ini."

Chanyeol menunjukkan sebuah bulu yang tadi dia ambil. Baekhyun masih terus mengamati bulu itu. "Ini tidak mungkin." Baekhyun menatap tak percaya kearah yeoja dihadapannya. "Sepertinya aku mulai tertular oleh penyakit gilamu Chanyeol. Dan kau pasti sekarang sangat senang bahwa impianmu telah menjadi kenyaataan." Chanyeol tersenyum menang mendengar perkataan Baekhyun. "Sekarang lebih baik kita bawa dia pergi dari sini. Bawa dia kerumahku. Biarkan dia istirahat dirumahku saja." Chanyeol berdecak tak suka dengan perkataan Baekhyun. "Ck! Mengapa harus dirumahmu?" Baekhyun menatap Chanyeol kesal. "Kau tidak melihat kalau dia seorang yeoja? Dan kau adalah seorang namja. Aku tidak mau melihat dia tiba-tiba mati karena obsesimu terhadapnya. Sudahlah bawa dia kerumahku." Dengan berat hati Chanyeol menggendong yeoja itu dan berjalan menuju rumah Baekhyun.
-
-
-
-

Hai-hai readers yang aku cintai dan aku sayangi *gombal bgt -_-* *plakk!* xD ini adalah ff pertamaku yang bukan yaoi. Ehh salah, tetep aja yaoi cuma jd GS! aja ._. Coba tebak siapa yang jd pemeran malaikatnya disini? :3 *pasti udah pd tahu*

Ini kenapa kok seperti cerita buat Chanyeol aja ye, padahal ini cerita bukan tentang Chanyeol -_- karena aku XiuHan shipper nyerempet ke ChanBaek juga jadinya ya kyk gini. Gag jelas nih cerita buat pasangan siapa sebenernya xD

Semakin ngawur dan gag jelas nih aku ngomong -_- akhir kata semoga kalian suka ne sama cerita yang absurd nan aneh ini ;)

Tunggu sampe jamuran ne Chapter 2 nya nyusul~ huhuhuhhh~


Pai~pai~ *aegyeo bareng Xiumin oppa*

FF XiuHan/LuMin Couple

Don't Call Me Pretty Boy!!


Mian klo ceritanya gaje dan aneh bgt. Idenya tiba-tiba muncul begitu aja pas mau tidur dengan nyawa yang sedikit jadinya ya beginilah ceritanya :3

Rate : T

Genre : Romance

Pairing : XiuHan -Kim Minseok, Xi Luhan-

Other cast : Oh Sehun, Chen, Suho

Warning : GS!Xiumin, Baekhyun w/ Kyungsoo. Cerita kgag jelas, aneh dan ngawur. Mian typo :3 Bila gag suka jangan dibaca!!
-
-
-
-

Happy reading~

-
-
-
-


Luhan. Seorang flower boy yang terkenal disekolahnya. Dikenal dengan namja yang ramah, baik hati, dan selalu menebar senyum dimana-mana. Tapi ada hal yang dapat merubah semua sikapnya itu bila ada seseorang yang memanggilnya "namja cantik". Dia akan menunjukkan sikap yang benar-benar bertolak belakang dengan sikapnya yang kelewat ramah itu. Dia akan benar-benar marah dan tidak segan-segan untuk menghajar siapa saja yang berani memanggilnya seperti itu. Dia tidak peduli meskipun itu adalah yeoja sekalipun, dia akan benar-benar menghajar yeoja itu. Mengerikan bukan.

Seluruh sekolah sudah tahu akan akibatnya bila memanggil Luhan dengan sebutan "namja cantik." Tidak ada orang yang berani memanggilnya seperti itu. Mereka semua benar-benar takut akan apa yang akan Luhan lakukan pada mereka. Tapi tidak dengan yeoja yang satu ini. Namanya adalah Kim Minseok. Dia adalah murid pindahan dari Jerman. Merupakan sepupu jauh dari Oh Sehun -teman Luhan-. Dia memang masih baru disekolah XOXO high school jadi diharap maklum bila dia tidak tahu akan peraturan tersembunyi disekolah barunya ini.

Dan hari ini kata-kata yang tidak boleh diucapkan keluar dari mulut seorang yeoja polos bernama Kim Minseok.
"Kau sangat cantik Luhan-ssi. Meskipun kau seorang namja tapi wajahmu kelewat cantik seperti seorang yeoja. Aku yang yeoja saja begitu iri melihatnya. Baru kali ini aku bertemu seorang namja canti sepertimu Luhan-ssi."

Minseok berkata dengan begitu polosnya. Dia mengukir senyuman yang manis dihadapan teman barunya dan juga Luhan. Luhan yang kaget mendengar kata itu diucapkan sudah siap-siap dengan sebuah pukulan yang keras diwajah Minseok. Sehun yang melihat Luhan seperti itu menahan tangan Luhan. Sehun menggeleng cepat kearah Luhan. Suho dan Chen yang merasakan suasana sudah mulai terasa panas membuat mereka mau tidak mau mencairkan suasana meskipun kini terlihat begitu canggung dengan suara tawa Chen dan Suho yang dipaksa.

"Ha..ha..ha..mengapa kau bilang seperti itu Minseok-ah? Luhan hyung ini adalah namja yang begitu real namja."

"Tapi wajahnya tidak memperlihatkan dia seperti seorang yang real namja. Apakah kalian tidak memperhatikan wajahnya? Wajah Luhan sangat cantik."

"Ha..ha..ha..lebih baik sekarang kita kembali kekelas saja. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."

Suho dan Chen membawa Minseok pergi dari kantin. Lebih tepatnya menyelamatkan Minseok dari amukan singa yang saat ini sudah siap menyergap mangsanya. "Lepaskan tanganmu Oh Sehun!" Wajah Luhan masih dipenuh dengan amarah. "Kumohon maafkan noonaku hyung. Dia masih baru disini sehingga dia tidak tahu apa-apa soal kata-kata itu. Kumohon hyung jangan menyakitinya." Sehun memohon berharap lebih kepada Luhan untuk tidak menghajar Minseok sampai babak belur. "Baiklah kali ini dia aku maafkan. Tapi bila dia berkata seperti itu lagi aku tidak akan segan-segan untuk menghajar dia. Aku tidak peduli meskipun dia seorang yeoja sekalipun. Kuharap kau segera memberitahu kepada noona kesayanganmu itu untuk tidak mengatakan kata itu lagi kepadaku." Luhan berdiri dan pergi meninggalkan Sehun sendirian. Masih dengan penuh emosi. "Aigoo. Aku tidak akan membiarkan noona dihajar habis-habisan oleh Luhan hyung."
-
-
Skip Time
-
-
Tak terasa sudah satu semester Minseok bersekolah di XOXO high school. Selama satu semester itu Minseok tak henti-hentinya memanggil Luhan dengan "namja cantik." Dan selama itu juga Luhan tak henti-hentinya nyaris memukul wajah Minseok. Tapi usahanya selalu berhasil ditahan oleh Sehun, Chen dan Suho. Mereka bertiga selalu melindungi Minseok dari serangan amukan Luhan.

"Eunni...Minseok eunni..." Seseorang memanggil Minseok dari kejauhan.

"Baekhyun, Kyungsoo. Ada apa?" Kedua yeoja yang dihadapan Minseok sekarang hanya tersenyum tidak jelas.

"Dimanakah pangeranmu dan ketiga pelindungmu itu eunni?" Goda Baekhyun.

Minseok memasang wajah tak mengerti. "Kau jangan pura-pura tidak tahu eunni. Luhan oppa, Chen, Suho, dan sepupumu Sehunnie."

Minseok mengangguk mengerti. "Aku tidak tahu mereka ada dimana sekarang. Sepertinya sekarang aku akan pulang sendirian tanpa Sehun."

"Baiklah kita akan pulang bersama-sama eunni. Dan hari ini aku akan mentraktir kalian makan siang."

Minseok dan Kyungsoo terlihat bahagia mendengar Baekhyun akan mentraktir mereka berdua. Kini mereka bertiga berjalan senang keluar sekolah.
-
-
Skip Time
-
-
Malam harinya dirumah kediaman keluaga Oh terlihat begitu sepi. Hanya ada Sehun dan Minseok saja dirumah. Tuan dan Nyonya Oh seperti biasa saat ini masih berada dikantonya. Masih sibuk dengan semua dokumen-dokumen yang menurut Sehun benar-benar membuat Tuan dan Nyonya Oh sudah melupakan anak semata wayangnya ini.

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan pintu dari kamar Minseok. Minseok membuka pintunya dan mendapati Sehun ada didepan kamarnya.

"Noona bolehkah aku masuk?" Minseok mengangguk pelan.

"Tentu saja. Masuklah." Sehun masuk dan duduk diranjang Minseok.

"Apakah ada yang ingin kau bicarakan denganku Sehunnie?" Kini Minseok sudah memposisikan dirinya duduk disamping Sehun.

"Sebelumnya aku minta maaf bila aku lancang menanyakan hal ini kepadamu noona."

"Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan kepadaku? Apakah masalah Luhan lagi?"

Sehun mengangguk pelan. "Apakah noona menyukai Luhan hyung? Mengapa noona suka sekali memanggil Luhan hyung seperti itu? Aku, Chen hyung dan Suho hyung sudah lelah terus melindungimu dari amukan Luhan hyung, noona. Bisakah noona kali ini jangan membuat Luhan hyung marah kepadamu?"

"Mianhae Sehun-ah aku sudah membuatmu kelelahan dengan sikapku ini." Minseok tertawa kecil. "Namja cantik. Aku sudah lama tidak memanggil Luhan seperti itu. Dulu dia tidak pernah marah setiap kali orang memanggilnya saperti itu, tapi mengapa dia tiba-tiba menjadi sangat mengerikan saat orang memanggilnya seperti itu. Seandainya Kris ada disini pasti dia akan menghajar Luhan habis-habisan karena dia sudah memukulku. Tapi untung ada kau, Chen dan Suho yang melindungiku."

"Luhan hyung sudah tidak seperti dulu lagi noona. Setelah kau dan Kris hyung meninggalkannya dulu, Luhan hyung juga telah kembali ke China. Dan setelah dia kembali lagi kesini Luhan hyung sudah berubah menjadi seperti sekarang."

Minseok tersenyum mendengar ucapan Sehun. "Sepertinya aku harus berbicara serius dengan Luhan."

"Aku kira kau menyukai Kris hyung noona. Tapi nyatanya tidak."

"Hahaha......tidak. Aku tidak menyukai Kris. Aku begitu terkejut sekarang Kris sudah memiliki kekasih di Kanada. Kau tahu sendiri kalau aku sudah menyukai Luhan sejak kecil. Tapi sepertinya aku harus meminta maaf kepada Luhan terlebih dahulu karena sudah membuat dia begitu marah kepadaku. Aku tidak menyangka bahwa dia akan memukulku meskipun aku ini adalah seorang yeoja."

"Aku tidak tahu mengapa Luhan hyung begitu membenci kata-kata itu. Besok apakah noona akan meminta maaf kepada Luhan hyung."

Minseok mengangguk pasti. "Tentu saja. Besok kau, Chen dan Suho tidak perlu mengikutiku. Aku ingin bicara berdua saja dengan Luhan."

"Apakah noona juga akan menyatakan perasaan noona?"

"Aku tidak tahu. Mungkin iya. Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepada Luhan besok." Minseok kini tersenyum bahagia. Sehun pun ikut tersenyum juga.

"Baiklah noona. Mianhaeyo sudah mengganggu istirahatmu. Aku akan kembali kekamar sekarang. Selamat malam noona. Aku menyayangimu."

"Selamat malam Sehunnie. Aku juga menyayangimu."
-
-
-
-
Jam istirahat digunakan Minseok untuk berbicara empat mata dengan Luhan diatap sekolah. Sehun, Chen, dan Suho hanya menunggu mereka dibawah sambil was-was bila terjadi hal yang tidak mengenakan pada Minseok. Dan entah darimana dan siapa yang mengajak Baekhyun dan Kyungsoo sekarang, mereka berdua tiba-tiba ikut menunggu Minseok dan Luhan dibawah.

Diatap, keheningan masih mendomonasi suasana. Minseok dan Luhan masih terdiam dengan pemikiran mereka masing-masing. Luhan yang tidak tahan dengan suasana seperti ini memulai angkat bicara.

"Apa yang ingin kau bicarakan kepadaku Minseok?"

"Sekarang aku sudah mulai terbiasa kau memanggilku dengan nama asliku Luhan."

Minseok tersenyum manis dan Luhan hanya tersenyum mengejek pada Minseok. Kini Minseok berjalan mendekat kearah Luhan.

"Mianhae Luhan-ah. Jeongmal Mianhae. Aku sudah membuatmu begitu marah karena aku memanggilmu seperti itu. Aku tidak tahu bahwa kau akan semarah ini kepadaku."

"......"

"Aku begitu terkejut saat kau bilang akan memukulku bila aku memanggilmu seperti itu. Setiap hari aku terus memanggilmu seperti itu hanya untuk mengetesmu apakah kau benar-benar akan memukulku. Aku berpikir bahwa kau tidak akan melakukan hal itu karena dulu kau begitu senang saat pertama kali aku menyebutmu seperti itu. Tapi ternyata semua itu salah. Kau ternyata benar-benar akan memukulku. Seandainya Kris tahu apa yang sedang kau lakukan kepadaku saat ini, kira-kira apa yang akan dia lakukan terhadapmu?"

"Dia akan melindungimu dan berkata, 'jangan sentuh Minseok bila kau ingin menyakitinya. Bila kau ingin menyakitinya kau harus melawanku terlebih dahulu.' Perkataan dia terdengar seperti orang dewasa padahal umurnya masih enam tahun waktu itu."

Minseok tertawa kecil. "Aku tidak akan menanyakan alasanmu mengapa kau sampai bersikap seperti ini kepada semua orang bila mereka menyebutmu seperti itu. Mianhae Luhan-ah waktu itu aku pergi meninggalkanmu saat kau membutuhkanku waktu itu. Aku begitu menyesal. Mungkin sikapmu yang seperti ini adalah bayaran untukku yang sudah pergi meninggalkanmu."

Minseok menatap Luhan dengan perasaan bersalah. Dia mencoba sekuat tenaga untuk tersenyum sekarang. 'Aku tidak boleh menangis. Aku tidak boleh menangis.' Kata-kata itu yang sekarang terus Minseok katakan didalam hati. Luhan yang melihat Minseok seperti itu sedikit terkejut. Dia tiba-tiba memeluk Minseok. Membelai lembut rambut Minseok.

"Bila kau ingin menangis, menangis saja bodoh. Kau jangan menipu dengan senyum manis palsumu seperti itu. Kau terlihat begitu jelek." Perkataan Luhan sukses membuat Minseok menangis dipelukan Luhan.

Beberapa menit Minseok masih menangis dipelukan Luhan. Setelah merasa Minseok sudah lebih baik Luhan melepaskan pelukannya. Menghapus air mata Minseok. "Kau jangan menangis baozi. Kau akan terlihat begitu jelek." Minseok yang mendengar perkataan Luhan seperti itu langsung memukul Luhan. Hanya sebuah pukulan yang dibuat-buat saja. Luhan tertawa melihat sikap Minseok seperti ini. Dia kembali membawa Minseok kedalam pelukannya. "Lu~ ada satu hal yang belum aku katakan kepadamu." Luhan langsung melepaskan pelukannya.

Minseok kini sedikit mencondongkan badannya mendekat ke Luhan untuk bisa berbisik kepada Luhan. "Saranghae Xi Luhan." Bisik Minseok. Dia kembali menghadap Luhan yang sekarang hanya bisa terdiam mendengar bisikan Minseok tadi. "Mengapa kau hanya diam saja Luhan-ssi? Apakah perkataanku membuatmu marah? Mianhaeyo." Minseok menundukkan wajahnya karena merasa bersalah pada Luhan. "Apakah aku terlihat seperti marah baozi?" Minseok mengangkat kepalanya. Melihat kini Luhan tersenyum manis padanya. "Jadi kau tidak marah padaku?" Luhan menggeleng pelan. Minseok terlihat begitu senang sekarang. Minseok tiba-tiba mengecup bibir Luhan dan itu sukses membuat Luhan terkejut dan wajahnya langsung berubah menjadi memerah. Tapi itu hanya sebuah kecupan sesaat saja. Setelah itu Minseok memeluk Luhan dengan bahagia. "Gomawo Luhan-ah. Aku kira kau marah kepadaku." Luhan melepas pelukan Minseok dengan paksa.

"Wae? Apakah aku membuatmu marah lagi?"

"Benar. Kau membuatku begitu marah baozi."

"Benarkah? Aigoo mianhae. Jeongmal mianhae Luhan-ah. Aku berjan...."

Belum sempat Minseok melanjutkan ucapannya Luhan sudah mencium bibir Minseok. Minseok begitu terkejut dengan ciuman Luhan yang begitu tiba-tiba. Minseok tersenyum dan membalas ciuman Luhan. Luhan menghentikan ciumannya dan berbisik kepada Minseok. "Kau sudah membuatku begitu marah karena sudah berani menciumku baozi." Minseok tersenyum malu. Dia menatap Luhan dengan wajah merahnya sekarang.

"Jadi apakah tuan Xi "namja cantik" Luhan mau menjadi kekasih Kim Minseok?"

"Yakk seharusnya aku yang berbicara seperti itu. Dan hilangkan sebutan itu dari namaku baozi."

"Aku tidak mau. Aku akan terus memanggilmu namja cantik."

"Baiklah terserah kau saja. Dan tuan Xi "namja cantik" Luhan berkata apakah Kim "yeoja jelek" Minseok ini mau menjadi kekasihku? Sebelumnya aku akan mengatakannya. Saranghae Kim Minseok."

"Yakk mengapa kau menyebut "yeoja jelek" diantara namaku?"

"Baiklah. Aku akan mengulangnya lagi. Apakah yeoja dihadapanku saat ini, Kim Minseok, mau menjadi kekasih Xi Luhan?"

"Tentu saja aku akan menerimanya dengan senang hati. Kim Minseok adalah milik Xi Luhan. Dan Xi Luhan adalah milik Kim Minseok."

"Bukankah itu kata-kataku yang dulu?"

"Jadi kau masih mengingat kata-kata itu?"

"Tentu saja aku masih mengingatnya. Kata-kata itu tidak pernah kulupakan.”

Minseok tersenyum senang dan Luhan sekali lagi menempelkan bibirnya dengan bibir Minseok kembali. Sebuah ciuman lembut yang mereka rasakan membuat mereka enggan untuk melepaskan ciuman ini.
-
-
Dibawah kini terlihat mereka berlima masih setia dengan wajah cemas mereka. "Mengapa mereka begitu lama? Kita sudah membolos jam pelajaran Jung seonsangnim sekarang. Aku tidak tahu apa hukuman yang dia berikan." Chen sudah mulai gelisah sekarang. "Ck! Berhentilah merengek Chen. Yang dihukum bukan hanya kau saja. Tapi kita semua juga akan terkena hukuman." Suho memberikan tatapan tajam kepada Chen. "Mianhaeyo hyung aku sudah membuatmu seperti ini." Wajah Sehun kini berubah menjadi sedih dan bersalah. "Yakk kalian berdua, mengapa kalian juga ikut-kutan menunggu Minseok dan Luhan hyung disini? Lebih baik kalian kembali saja kekelas kalian." Perintah Suho. "Kau saja yang kembali kekelasmu. Kita berdua sebagai teman Minseok eunni akan setia menunggunya disini sampai dia kembali." Perkataan Baekhyun membuat Suho langsung terdiam.

"Mengapa kalian masih disini? Bukankah seharusnya kalian ada dikelas sekarang." Suara Minseok membuat kelima orang yang sedari tadi menunggunya kini terlihat gembira karena Minseok dan Luhan sudah menampakkan dirinya. "Eunni." Kyungsoo dan Baekhyun langsung berlari kearah Minseok. "Gwaenchanayo eunni? Luhan oppa tidak memukulmu kan?" Tanya Kyungsoo cemas. Minseok menggeleng pelan. "Ani. Luhan tidak memukulku. Dia yang kupukul duluan." Minseok menoleh kearah Luhan. "Benarkah eunni? Daebak! Minseok eunni jjang!" Baekhyun bersorak gembira. Minseok melihat Sehun, Chen dan Suho masih dengan wajah cemasnya.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama."

"Noona sudah menaklukan singa yang liar itu bukan?"

"Tentu saja. Aku sudah menaklukannya. Kau lihat sekarang, dia sudah terlihat seperti Luhanku yang dulu."

"Sudahlah. Nanti saja basa-basinya. Lebih baik sekarang kita kembali kekelas saja."

Luhan menggandeng tangan Minseok, menariknya dan mengajaknya kembali kekelas mereka. "Chen-ah, Suho-yah, terima kasih kalian sudah mencemaskanku. Baekhyunnie dan Kyungsoo-yah, terima kasih juga. Sampai bertemu nanti sepulang sekolah." Luhan dan Minseok kini sudah semakin jauh dari mereka berlima.

"Apakah Minseok eunni dan si pangeran sudah menjadi kekasih sekarang?" Tanya Kyungsoo. "Menurut noona bagaimana?" Sehun kembali bertanya. "Tentu saja mereka sudah menjadi kekasih setelah turun dari atap tadi." Baekhyun berkata dengan semangat. "Aku bisa melihat dari sikap eunni dan Luhan oppa yang terlihat begitu dekat." Tambah Baekhyun. "Itul lah jawabannya. Singa sudah ditaklukan sekarang. Kajja kita kembali kekelas." Mereka berlima melangkahkan kaki menuju kelas mereka masing-masing dengan perasaan yang sama bahagianya seperti Minseok dan Luhan saat ini.

-End-

Mian klo feelnya gag dapat. Ceritanya juga begitu dibuat terpaksa. Mianhaeyo~


Pai~pai~ *aegyeo bareng Xiumin oppa*

FF SeKai/KaiHun Couple

-Eternity-


Hai. .hai. .hai. .ini adalah ff SeKai/KaiHun couple pertama ku. .semoga readers suka ne sama nih ff. Mian klo ff nya gaje atau aneh -_- Biasa klo udah mulai ngetik nih tangan yang kerja tapi otak kgag ikutan konek :3
-
-
-
-
Happy reading J
-
-
-
-

Aku mungkin pernah jatuh cinta sebelumnya
Kau tidak pernah menjauh tapi kau jauh dari ku
Kau menyentuh hidupku dan aku menemukanmu
Kaulah setiap napasku yang aku hembuskan

Aku mencintaimu dengan setiap sisi di hatiku
Hanya ada kau dan aku
Aku berlutut sendiri, aku merindukanmu
Jika aku yakin ini selamanya
Ingatanku, mencintaimu dan memegangmu, cintaku…

Setiap hari surat itu selalu aku baca tanpa ku bosan membacanya. Dan setiap kali aku membacanya juga kenangan akan yang dulu pernah kita lalui bersama kembali mengusik pikiranku lagi. Kembali air mataku menetes setiap kali kenangan itu muncul dalam ingatanku.

Tapi hari ini aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah membuka surat itu lagi. Aku tidak ingin mengingat kembali kenangan yang dulu. Mengingat akan dirimu yang selalu membuat air mataku jatuh. Mulai sekarang aku akan kembali hidup lagi tanpa ada sentuhan akan dirimu dalam hidupku.
-
-
-
-
Hari ini aku berangkat lebih awal kesekolah daripada biasanya. Aku memang sengaja ingin berangkat lebih awal karena aku ingin berjalan santai menghirup udara segar jalanan yang aku lewati. Sepertinya aku terlalu pagi berangkat ke sekolah. Jalanan masih begitu sepi. Aku masih bisa melihat dua sampai tiga mobil yang lewat dijalanan. Tapi itu lebih baik.

Aku melihat seorang namja tinggi sedang berdiri sendirian di dekat pohon sakura yang berada tidak jauh dari sekolahku. Sepertinya dia sedang kebingungan. Dia memakai seragam yang sama denganku tapi sepertinya aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Aku memutuskan untuk menghampirinya.

“Annyeonghaseyo.” Aku menyapanya. Dia berbalik dan tersenyum padaku. “Annyeonghaseyo.” Aku terdiam sebentar melihat namja ini. Mengapa wajah namja ini begitu familiyar sekali. Seperti aku pernah melihatnya. “Maaf, bisakah aku minta tolong padamu?” aku terbangun dari kegiatan diamku. “Apa yang bisa aku bantu?” dia menampakkan senyum lebarnya. “Aku baru pindah hari ini dan langsung masuk kesekolah. Aku tidak tahu apa-apa. Kulihat kau juga memakai seragam yang sama dengan ku. Jadi aku minta tolong bisakah kita berteman? Aku sama sekali belum mengenal siapapun disini.” Aku ingin tertawa mendengar dia berkata seperti itu. Mengapa dia ingin bertemen dengan ku harus minta tolong terlebih dahulu? Aneh sekali namja ini. Aku tersenyum padanya. “Tentu saja. Kita teman sekarang. Nama ku Kim Jongin, tapi kau bisa memanggilku Kai.” Dia sepertinya orang yang pemalu. “Nama ku Oh Sehun. Aku murid baru disekolahmu. Aku pindahan dari Jepang. Senang bertemu dengan mu Kai-ssi.” Sama-sama kita tersenyum dan aku langsung mengajak Sehun berjalan ke sekolah.

Sekolah masih terlihat sepi. Aku dan Sehun duduk dibawah tangga dekat loker sekolah. “Kau jangan terlalu formal kepadaku Sehun. Bukankah kita teman sekarang?” dia hanya tersenyum dan mengangguk pelan padaku. “Kai-ssi…ahhh maksudku Kai-yah, mengapa kau berangkat begitu pagi? Bahkan sekolah masih terlihat sepi sekarang.” aku menoleh kepadanya. Menunjukkan ekspresi seperti berpikir. “Kau sendiri juga mengapa berangkat begitu pagi dan hanya berdiri di bawah pohon sakura tadi? apakah kau sedang menunggu seseorang disana?” sekarang aku yang berbalik bertanya padanya. Dia hanya terdiam mendengar pertanyaanku. Ekspresi diwajahnya berubah sedih sekarang. Mengapa dia menjadi seperti ini?

“Aku memang sedang menunggu seseorang.” Dia tersenyum kecut. “Lalu dimana orang itu sekarang? apakah dia bersekolah disini juga?” dia menggelengkan kepalanya pelan. “Apakah kau pernah menyukai teman mu sendiri Kai?” aku terkejut mendengar dia bertanya seperti itu padaku. “Bukan aku yang menyukai. Tapi temanku yang menyukaiku.” Sekarang kepala ku begitu pening. Kepalaku berdenyut. Pertanyaan Sehun membuatku mau tidak mau mengingat kembali namanya. “Awalnya aku tidak menyadari bahwa dia menyukaiku. Tapi saat aku sadar dia menyukaiku dan sepertinya aku juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya, dia sudah pergi meninggalkan ku.” kenangan itu sukses telah kembali ke pikiranku.

Aku menoleh kearah Sehun. Dia hanya memandangiku dengan wajah datarnya. “Mianhae. Sepertinya aku sudah membuatmu mengingat dia kembali.” Aku menunjukkan senyum manisku padanya. Menyembunyikan semua pikiran ku akan dia dari Sehun.”Tidak. Aku sama sekali tidak mengingat dia lagi.” Kataku berbohong. Kami berdua terdiam. Sekarang hanya keheningan yang ada. Kami berdua tenggelam dengan pemikiran kita masing-masing. Aku berusaha untuk tidak mengingat nama dan wajah dia lagi. Aku terus berusaha sampai kepalaku benar-benar pusing sekarang.

“Sepertinya sekolah sudah mulai ramai.” Aku terbangun dari lamunanku. Aku menoleh kesegala arah. Benar. Sekarang sekolah sudah ramai. Aku berdiri dan merapikan bajuku yang sedikit berantakan. “Baiklah. Aku akan mengantarmu ke ruang guru. Kajja.” Aku dan Sehun berjalan menuju ruang guru. Setelah sampai aku meninggalkannya sendirian dan kembali ke kelasku.
-
-
-
-
“Kai-yah…” aku mendengar ada yang memanggil nama ku. Aku mencari kesegala arah. Di depan gerbang sekolah aku melihat Sehun sedang melambaikan tangannya ke arah ku. “Kai-yah..” aku langsung berjalan menghampirinya. “Kau sedang apa disini? Ku kira kau sudah pulang.” Dia menggeleng pelan. “Tidak. Aku sedang menunggumu Kai. Aku hanya ingin pulang bersamamu saja. Bolehkan?” aku langsung merangkul pundak Sehun. “Tentu saja boleh. Kajja kita pulang.”

“Sehun-ah mengapa kau berhenti?” aku menoleh kebelakang melihat Sehun. Dia tidak mendengar ku. Dia sepertinya focus sekali melihat kearah depan. Aku mengikuti arah pandangan Sehun kearah depan. Ada seorang namja bertubuh kurus sedang berdiri dibawah pohon sakura. “Apakah kau mengenal dia?” aku kembali bertanya padanya. “Bisakah kita tidak melewati jalan itu Kai? Aku tidak ingin bertemu dengannya.” Aku terkejut mendengar perkataan Sehun seperti itu. “Baiklah. Tapi jalannya agak sedikit memutar dari biasanya.” Sehun langsung berbalik memutar jalan tanpa mendengar perkataan ku. Aku kembali melihat kearah namja kurus itu. Memang dia siapa? Mengapa Sehun tidak ingin menemuinya? Aku langsung berlari kecil menyusul Sehun yang sudah setengah jalan sekarang.

“Rumahmu dimana?” pertanyaan ku tidak didengar oleh Sehun. “Rumahmu dimana Sehun?” kembali aku bertanya. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku menoleh kearahnya. “Yakk Oh Sehun! Rumahmu dimana?” dia sedikit terkejut dengan suara kerasku. “Rumah? Rumahku……”  dia menghentikan langkahnya. Melihat sekeliling daerah ini. Lalu melihat kearahku. Hanya sebuah cengiran yang dia tunjukkan. “Ini dimana Kai-yah?” mengapa dia malah bertanya kepadaku sekarang? aku menghela napasku. “Baiklah. Untuk sementara kau kerumahku dulu saja. Setelah itu kita akan mencari alamat rumahmu.” Aku menggandeng tangannya dan menuntunya sampai rumahku.

Setelah sampai dirumah, aku menyuruh dia untuk menunggu ku berganti baju. “Kalian makanlah dulu sebelum keluar.” Aku mendengar ibuku berkata kepada Sehun. Aku menuruni tangga dan langsung menuju ke meja makan.

“Baru kali ini ibu melihat kau membawa seorang teman kerumah Kai?”

“Sehun adalah anak baru di sekolahku bu. Dia tidak tahu alamat rumahnya. Makanya aku mengajak dia ke rumah. Setelah ini aku dan Sehun akan mencari alamat rumahnya.” Aku menjawab dengan mulutku yang masih pernuh dengan nasi.

“Ahhh…jadi kau murid baru Sehun-ah.” Sehun hanya mengangguk dan memberikan senyuman pada ibuku. “Maaf bibi, memang sebelumnya Kai tidak pernah membawa temannya kemari?” aku berhenti sebentar melakukan aktifitas makanku. Menghela napas lalu melanjutkan makan ku kembali.

“Tantu saja pernah. Mereka begitu akrab sekali. Bibi kira dia adalah kekasih Kai.” Mendengar ibuku mengatakan kata kekasih aku langsung tersedak. “Uhuk…Uhuk….” Aku langsung cepat-cepat mengambil air minum dan meminumnya. “Tapi setiap kali bibi tanya dia siapa, Kai selalu bilang bahwa dia hanyalah teman saja.” Mengapa ibuku terus saja melanjutkan bicaranya? “Lalu dimana sekarang teman Kai itu bibi?” Tolonglah ibu, jangan menjawab pertanyaan Sehun. Aku mohon. “Dia sudah pergi. Beberapa bulan yang lalu dia pindah ke China. Setelah kepergian dia, bibi tidak pernah melihat Kai mengajak temannya lagi kerumah. Dan sekarang sepertinya kau adalah teman kedua yang diajak Kai kerumah setelah Kyungsoo.” Lagi aku tersedak. “Yakk apakah kau tidak bisa makan dengan tenang Kai-yah? Mengapa dari tadi kau terus saja tersedak makan mu?” aku sudah tidak ingin melihat ibu menceritakan dia lagi di depan Sehun. Aku berdiri dan langsung menggandeng tangan Sehun. Menariknya dari meja makan. “Ibu, kami pergi dulu.” aku langsung melesat pergi meninggalkan rumah. “Sehun-ah…datanglah kesini lagi.” Aku melihat ibuku melambaikan tanganya kearah kami. Sehun, dia memberikan senyum manis pada ibuku. Sedangakan aku, aku masih terus saja menarik tangan Sehun manjauh dari rumahku.
-
-
-
-
Setelah terus mencari alamat rumah Sehun dengan berkeliling jalanan, akhirnya kita menemukannya. “Jadi ini rumahmu?” Sehun mengangguk gembira. “Kajja kita masuk.” Aku tidak mengikutinya masuk. “Kenapa? Kau tidak ingin masuk ke rumah ku? aku ingin memperkenalkan mu pada orang tua ku Kai-yah. Kajja.” Sehun memaksaku untuk masuk. Dia menarik lengan ku. Dengan malas aku mengikutinya masuk ke rumahnya.

Sampainya di dalam rumah, aku melihat namja kurus yang tadi berdiri di bawah pohon sakura. “Yaaak Oh Sehun! Mengapa kau baru pulang sekarang? apakah kau selalu membuat orang lain mengkhawatirkanmu? atau memang kau sengaja melakukannya huh?” namja kurus itu menghampiri ku dan Sehun. “Dia siapa? Jadi sekarang kau sudah memiliki teman?” namja kurus itu tersenyum remeh kearah ku. “Lihatlah sebentar lagi ayah dan ibu pasti akan memarahimu.” Namja kurus itu pergi meninggalkan kami berdua. “Sudahlah. Kau jangan hiraukan dia. Kita ke kamarku saja.” aku hanya mengangguk dan mengikutinya berjalan dari belakang.

Aku langsung membaringkan tubuhku diatas ranjang Sehun. Jujur saja sekarang aku begitu lelah karena daritadi terus berjalan berkeliling mencari rumah Sehun. “Bukankah namja tadi yang ada di pohon sakura itu? Apakah dia kakak mu?” Sehun mengikutiku merebahkan tubuhnya diranjang disebelahku. “Iya. Dia adalah kakak ku. Lebih tepatnya  kakak tiriku.” Sepertinya hubungan Sehun dengan kakaknya tidak berjalan dengan baik. Ingin aku bertanya lagi padanya. Tapi melihat Sehun yang saat ini sedang termenung sedih, membuatku mengurungkan niatku untuk bertanya padanya lagi.

“Orang yang bernama Kyungsoo itu, apakah dia orang yang menyukaimu?” aku menoleh kearahnya. Sedikit terkejut tiba-tiba Sehun bertanya tentang Kyungsoo sekarang. Kembali aku menerawang langit-langit kamar Sehun. “Benar. Dia adalah seorang teman yang diam-diam menyukaiku.” Aku mendengar Sehun sedikit tertawa. “Lebih baik teman daripada saudara.” Aku langsung menoleh kearah Sehun. Tidak mengerti dengan ucapannya barusan. “Apa maksudmu dengan saudara?” sekarang Sehun menoleh kearah ku. Kami saling berhadapan.

“Kau pasti akan terkejut bila aku mengatakannya. Aku menyukaiku kakak ku Kai.”

“Mworago? Kau menyukai kakak mu sendiri. Namja kurus tadi?”

“Benar. Jauh sebelum aku dan dia menjadi saudara, aku sudah menyukainya. Tapi setelah mendengar bahwa kedua orang tua kami akan menikah, aku begitu terkejut. Bahkan sebelumnya aku ingin menyatakan perasaan ku padanya. Lalu melihat kenyataan bahwa sekarang dia adalah kakak ku, aku begitu sedih dengan diriku sendiri. Aku terus berusaha melepaskan perasaan ku terhadapnya.”

“Lalu apakah sekarang usahamu berjalan lancar?”

“Aku tidak tahu Kai. Aku masih bingung mengatur perasaan ku setiap kali bertemu dengannya.”

“Kau hanya membutuhkan seseorang untuk melupakan perasaanmu itu Sehun.”

“Apakah kau mau membantuku Kai-yah? Membantu melupakan perasaan ku terhadap kakak ku.”

“Kisah kita hampir sama Sehun-ah. Baiklah. Kita saling membantu satu sama lain.”

“Terima kasih kau sudah begitu baik terhadapku Kai. Kita akan berjuang bersama-sama Kai-yah. Melawan perasan kita terhadap orang yang kita sukai. Kau harus berjanji kepadaku bahwa kau tidak akan pernah meninggalkanku.”

“Yakk kau berkata seperti itu seakan kita adalah sepasang kekasih saja?”

“Tapi bila pada akhirnya kita saling menyukai, apakah kau mau menjadi kekasihku?”

Mengapa sekarang pembicaraan ini merembet kearah yang seperti ini? aku meluruskan pandangan ku melihat kearah langit-langit kamar Sehun. Mengapa jantunng ku menjadi berdebar kencang seperti ini saat Sehun bertanya seperti itu kepadaku?

“Mengapa kau bertanya seperti itu sekarang? kita kan hanya teman Sehun-ah.”

“Kenapa? Bukankah kau dan Kyungsoo juga teman dulu? Memang bila kita menjadi teman dan memiliki perasaan yang sama tidak boleh menjadi sepasang kekasih?”

“Bukan seperti itu. Maksudku adalah……”

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, Sehun tiba-tiba memelukku. Deg. Jantungku berdebar begitu kencang sekarang. Semoga dia tidak mendengarnya. “Aku menyukaimu Kai. Aku tidak tahu saat melihatmu pertama kali membuatku begitu nyaman. Dan sepertinya aku sudah menemukan pengganti kakak ku dihatiku sekarang.” Semoga Sehun tidak melihat wajah ku sekarang. Wajah ku sekarang terlihat seperti sebuah apel yang sedang matang saat ini. “Bisakah aku menjadi pengganti Kyungsoo dihatimu Kai-yah?”

Entah mengapa aku melakukan ini. Sekarang aku memeluk Sehun. Memeluknya dengan erat. Apakah sekarang aku menyukainya juga? “Tentu saja. Bila aku bisa menjadi pengganti kakakmu dihatimu, tentu kau bisa menjadi pangganti Kyungsoo dihatiku.” Sehun membalas pelukanku. “Gomawo Kai-yah.” Dalam diam kami masih terus saling memeluk. Menyalurkan perasaan yang sama-sama kita rasakan saat ini.

Dalam hati aku berkata, “Kyungsoo-yah…terima kasih kau telah hadir dalam hidupku. Meskipun kita tidak bisa bersama lagi, tapi aku yakin kau disana sudah bahagia dengan seseorang yang kau cintai. Berkat kau, aku menyadari arti perasaan suka dan cinta itu bagaimana. Kau telah menyadarkan ku bagaimana pentingnya memiliki perasaan cinta terhadap seseorang dan rasa saling memiliki satu sama lainnya. Terima kasih untuk semuanya Kyungsoo-yah.” Aku melirik kearah Sehun. Dia menutup matanya. Sepertinya dia sudah terlelap dalam mimpinya sekarang. Kemudian aku menyusul Sehun tidur yang sebelumnya aku memberikan sebuah kecupan lembut pada keningnya.

-End-

Mian klo judul sama isi ceritanya kgag ada nyambung-nyambungnya sama sekali -_- alurnya juga kecepetan :v mianhae~


Pai~ pai~ *aegyeo bareng Xiumin oppa*

Rabu, 17 September 2014

FF Luhan EXO (lagi)

A Dream


FF ini aku buatin khusus (yang ketiga) untuk yeodongsaeng ku tersayang yang jauh disana, Nadya *hug Nadya* semoga km suka ya sama nih cerita J *klo kgag suka lempar aja pake panci D.O* waks~

FF ini aku beri edisi khusus krn dalam ceritanya ada selempitan sedikit pict nya Luhan oppa :D *sengaja ngasih sih*

-
-

Ini bagian Luhan oppa (lagi) ._.

Mianhae klo typo bertebaran dimana-mana. .

-
-

Happy reading~~

-
-
-
-

Senang rasanya memiliki seorang kekasih yang mencintai kita dengan sepenuh hati. Memiliki seorang kekasih yang mempunyai wajah tampan pasti juga sangat membahagiakan. Siapa juga yang tidak ingin memiliki kekasih yang tampan sekaligus sangat mencintai kita? Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku memiliki kekasih yang sangat mencintaiku dan juga dia sangat tampan sekali. Tapi bagiku dia tidak tampan juga. Wajah nya terlihat bisa secara bersamaan tampan dan cantik. Meskipun begitu dia terlihat begitu manly sekali dengan wajah yang cantik itu. Semua orang memanggilnya seorang flower boy.

Aku bertemu dengan kekasih ku di bandara saat aku sedang sangat terburu-buru sekali karena aku takut akan ketinggalan pesawatku menuju Korea. Dan saat itulah moment ku dan dia bertemu. Aku tidak sengaja menabraknya.

-Flashback-

“BRUKK!”

“Maaf. Maafkan aku.”

Aku melihat dia yang duduk terjatuh bangun dengan tampang yang aahhhh membuatku sangat speechless. Wajahnya sangat tampan dibalik kacamata hitamnya. Gayanya yang sangat cool dan jangan lupakan senyumanya yang sudah membuatku begitu langsung jatuh hati padanya. Yahh bisa dibilang aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu pertama kali dengannya.


“Gwaenchana?”

Suaranya membuatku ingin melayang. Aku masih belum tersadar dari lamunanku. Aku terus saja memandanginya. Aku baru tersadar dari lamunanku saat mendengar sebuah pemberitahuan bahwa sebentar lagi pesawat yang akan aku naiki akan lepas landas.

“Ne. Nan gwaenchana. Maaf sudah menabrakmu.”

Aku langsung pergi meninggalkannya. Dengan sedikit berlari kecil aku masih terus menoleh kebelakang melihatnya. Aku mengerang kesal dalam hatiku. Mengapa disaat seperti ini aku harus berpisah dengan namja tampan seperti dia? Akhirnya aku masuk dalam pesawat dan memilih tempat duduk ku.
-
-
Skip Time
-
-
Sudah sebulan sejak kejadian dibandara itu. Aku terus saja memikirkan namja yang kutabrak dibandara sebulan yang lalu. Mengapa wajah namja itu tidak bisa hilang dalam pikiran ku? Seandainya ada seorang peri yang bisa mengabulkan permohonanku sekarang, aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Tapi itu sangat tidak mungkin terjadi. Di dunia ini memang ada seorang peri? Ini bukanlah dunia fantasi seperti halnya yang ada di cerita dongeng. Ini adalah dunia yang nyata dimana seorang peri itu sama sekali tidak ada. Tapi sekali lagi aku terus memikirkan hal itu. Peri kumohon datanglah. Aku ingin kau mengabulkan permohonanku.

Saat aku berjalan tanpa memikirkan jalan yang aku ambil, tiba-tiba seseorang menarik lengan ku kepinggir jalan. Aku terkejut seorang ahjumma sekarang sedang mencengkram lengan ku. Tidak begitu kencang tapi itu sudah sukses membuat ku takut. Bagaimana tidak? Seorang ahjumah yang tidak kau kenal menarik mu dan sekarang dia menatapmu dengan tajam seolah-olah kau adalah seorang tahanan yang sedang di interogasi sekarang.

“Ahjumma apa yang kau lakukan? Mengapa kau menatapku seperti itu? Lepaskan aku!”

Sungguh sikap ahjumma ini sudah membuatku takut setengah mati. Perkataan ku sama sekali tidak di dengar olehnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus melepas paksa cengkramannya dan lari sekuat tenaga meninggalkan tempat ini?

“Kau ingin bertemu dengan seorang namja yang sebulan lalu kau tabrak dibandara bukan?”

Aku begitu terkejut mendengar ahjumma berkata seperti itu. Apa yang ahjumma ini katakan? Mengapa dia bisa tahu keinginanku? Apakah dia bisa membaca pikiran ku? atau memang dia seorang pembaca pikiran sehingga tahu semua pikiran orang-orang yang lewat disini?

“Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya. Tapi kau tidak bisa melihatnya langsung. Kau hanya bisa melihat dia dari jauh dan dibalik punggunya saja.”

Apa aku akan bertemu dengannya? Bertemu dengan namja tampan itu? Apa tidak salah ucap ahjumma ini? Dia gila atau sedang menipuku sekarang? Tapi tidak mungkin kalau dia menipuku. Kalau dia menipuku, mengapa ahjumma ini tahu sekali apa keinginan ku? Dan perkataannya sangat tepat sekali.

Dan setelah itu ahjumma langsung melepaskan cengkramannya dari lengan ku. Tapi aku masih belum bisa pergi meninggalkannya. Aku masih menatap ahjumma itu dengan wajah bertanya.

“Pergilah sekarang. Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya.”

Aku langsung pergi dengan langkah pelan. Aku terus memikirkan semua ucapan yang ahjumma tadi katakan kepadaku. Apakah aku harus mempercayai semua perkataan ahjumma tadi? Tidak mendapatkan seorang peri yang aku inginkan sekarang aku bertemu dengan seorang ahjumma yang bisa membaca pikiran seseorang. Apakah sekarang aku mulai mempercayai kalau ahjumma itu bisa membaca pikiran seseorang? Aahhh sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan hal itu.
-
-
Setelah lelah seharian berjalan dan terus berperang dengan pemikiranku tentang perkataan ahjumma asing tadi aku masuk ke dalam kedai bubble tea. “Mengapa kedai ini selalu ramai setiap kali aku kemari?” Aku berjalan menuju antrian yang bagiku sangat panjang sekali. Padahal hanya ada 6 orang saja yang sekarang sedang antri untuk memesan bubble tea. Sungguh aneh pemikiran ku ini.

Saat aku berjalan maju menuju antrian seketika itu juga aku melihat namja yang sangat mirip dengan namja yang aku tabrak dibandara sedang berjalan keluar dari kedai. “Apakah aku tidak salah melihat tadi? dia adalah………..” aku langsung bergegas pergi keluar kedai tanpa memikirkan lagi rasa lelah ku. Aku menolehkan pandangan ku ke segala arah. Dan aku melihatnya sedang berjalan menuju lampu merah penyebrangan. Aku mengejarnya dengan berlari tanpa memikirkan siapa pun orang yang aku tabrak sekarang.

“Aku mohon jangan pergi. Aku hanya ingin melihatmu saja. Aku ingin memastikan apakah benar itu kau.”

Sepertinya ini bukan hari keberuntungan ku. Dia sekarang telah berjalan menyebrangi jalan keseberang. Aku ingin mengejarnya tapi mengapa disaat seperti ini lampu merah menyala? Dengan hati yang sangat berat aku hanya bisa memandangi punggungnya dari kejauhan.


-
-
-
-
Aku sangat malas untuk masuk sekolah hari ini. Semua pemikiran tentang namja bandara itu sudah membuatku kehilangan semangat ku. Dan hari ini aku ingin tidur saja di perpustakaan. Membolos disaat pikiran sedang kacau tidak masalah bukan? Hanya sekedar merefreshkan otak saja.

Aku berjalan pelan menuju perpustakaan. Dengan wajah yang terlihat kusut dan tanpa adanya semangat aku berjalan dengan lunglai dan tanpa sadar seseorang sekarang sedang menghalangi jalan ku. aku mengdongak melihat siapa orang yang sudah berani menghalangi jalan istirahatku menuju perpustakaan. Aku langsung terkejut dan langsung bangun dari rasa malasku melihat orang yang sekarang sedang berdiri dihadapan ku ini. Aku terus mengedipkan mata ku. Percaya atau tidak. Mimpi atau tidak hari ini. Aku melihat namja bandara ada dihadapan ku sekarang. Dia tersenyum dan menyapaku.

“Nadya…”

Aku ingin pingsan sekarang. Benar ini adalah namja bandara itu. Namja yang ingin aku temui. Namja yang sudah membuatku kehilangan semangat ku. Sekarang dia benar-benar ada dihadapan ku.

“Kajja ikut aku sekarang.”

Dia langsung menggandeng tangan ku dan menarik ku untuk ikut bersamanya. Aku masih belum bangun dari kesadaraanku. Aku merasa ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat indah. Baiklah kalau ini adalah sebuah mimpi aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi.

Di atap sekolah sekarang aku dan dia sedang duduk manis sambil melihat pemandangan sekolah dari atas. Dia menggenggam tangan ku dengan erat sedangkan aku menyandarkan kepalaku dibahunya. Senangnya aku bisa seperti ini dengannya.

“Kau adalah namja yang aku tabrak dibandara sebulan yang lalu bukan?”

“Benar.”

“Bolehkan aku tahu nama mu?”

“Nama ku Xi Luhan.”

“Luhan oppa, kau tahu dari mana nama ku adalah Nadya?”

“Apa yang tidak aku ketahui tentang dirimu Nadya. Jangankan nama, aku tahu semua tentang dirimu.”

Aku tersenyum manis mendengar ucapannya. Aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi. Aku hanya ingin terus seperti ini dengannya. Aku tidak ingin bangun dari mimpi indah ini. tolong siapa saja, eomma, appa, oppa, jangan bangunkan aku sekarang. Aku masih ingin melanjutkan mimpi indah ku ini.
-
-
-Flashback End-
-
-
“Nadya bangun. Cepat bangun!!”

Suara siapa ini? siapa yang sudah membangunkan ku dari mimpi indah ku?

“Nadya cepat bangun!! Luhan sudah menunggumu dibawah.”

Luhan? Apakah aku tidak salah dengar? Bukan kah Luhan hanya nama yang ada dalam mimpi ku. Aku langsung menyibak selimutku dan ternyata aku melihat bayangan eomma sudah pergi meninggalkan kamarku. “Luhan? Eomma menyebut nama Luhan oppa? Tidak mungkin.” Aku langsung bangun dan berdiri mengumpulkan nyawa ku sebentar. Setelah itu aku turun kebawah melihat apa yang eomma katakan tadi.

Setelah sampai bawah aku melihat seorang namja kurus sedang duduk memainkan handphonenya. Memang namja itu terlihat keren. Aku menghampirinya.

“Kau siapa? Mengapa kau mencari ku?”

Namja itu berdiri dan menampakan senyum manis kepadaku. Astaga aku tidak salah lihat orang bukan? Ini benar Luhan oppa? Aku melihat Luhan oppa tersenyum kepadaku.


Apakah aku masih bermimpi sekarang? Aku mencubit lengan ku dengan kencang. Dan rasa sakit itu lah yang aku rasakan saat ini. Aku sekarang tidak sedang bermimpi. Ini benar sebuah kenyataan. Luhan oppa sekarang ada dihadapan ku.

“Mengapa kau mencubit lengan mu sendiri? Jangan sakiti dirimu Nadya. Berikan saja rasa sakit itu kepadaku. Biar aku saja yang merasakan sakitnya.”

Aku hanya tersenyum malu. Tanpa sadar aku langsung memeluk nya. Memeluknya dengan sangat erat sekali. Benar ini kau oppa. Kau tidak hanya sebuah mimpi belaka. Aku bisa merasakan tubuhmu. Mencium aroma parfum mu. Ini benar kenyataan.

“Nadya mengapa kau masih memakai piyam mu huh? Kau tidak malu Luhan melihatmu seperti itu. Cepat lah mandi sekarang.”

Perkataan eomma mebuatku malu. Memang aku masih menggunakan piyama sekarang.

“Baiklah eomma. Aku akan segera mandi. Oppa kau tunggu sebentar.”

Aku langsung bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi aku berganti baju dengan memilih baju terbaik ku. Aku ingin terlihat cantik didepan Luhan oppa. Setelah beberapa lama mempercantik diriku aku aku pun turun menghampiri Luhan oppa.
-
-
-
-
Melihat sekarang Luhan oppa sedang bernyanyi dengan gitarnya membuatku sangat senang. Melihat kekasih menyanyikan lagu romantis untuk kita bukankah itu sangat membuat hati kita melayang entah kemana.



Setelah selesai dengan urusan menyanyinya, aku lebih memilih untuk berada disampinya sekarang. Menyandarkan kepalaku dibahunya. Sepertinya Luhan oppa akan bercerita panjang lebar sekarang. Cerita tentang pertemuan ku dengannya dari awal sampai akhir. Aku tidak tahu mengapa dia sangat suka sekali menceritakan hal itu kepadaku berulang kali. Padahal aku sudah tahu bagaimana awal mula kisah kita.

Masih tetap terus bercerita, aku memainkan handphone ku sambil mendengar ceritanya. Aku membuka galeri foto handphone ku. Satu persatu foto Luhan oppa aku lihat. Wajahnya yang tampan. Wajahnya yang cantik. Wajahnya yang begitu menggemaskan. Aku selalu menyukai wajah itu. Wajah yang sekarang benar-benar sudah berada di dalam hati ku. wajah yang sudah membuatku ingin terus dengannya selamanya.






Memiliki seorang kekasih yang sangat mencintai kita begitu bahagia sekali. Seperti apa yang aku rasakan terhadap Luhan oppa sekarang. Aku tidak menyangka pertemuan ku dibandara akan berakhir seperti ini. Aku dan oppa sepertinya sudah ditakdirkan untuk bersama. Luhan oppa saranghaeyo.

-End-

Tolong jangan katakan ini cerita apa an krn aku juga kgag tau :v tangan yg kerja otak kgag ikutan konek :3 alur kecepatan, cerita kgag ngerti sama sekali alias gaje bgt dan bikin bingung pasti. . waks~

Mianhae readers~

Mianhae juga Nadya klo ceritanya absurd bgt jadinya ._.

Pai~ pai~ *aegyeo bareng Xiumin oppa*

FF Xiumin EXO

Beautiful Girl

FF ini aku buatin khusus (yang kedua) untuk yeodongsaeng ku tersayang yang jauh disana, Nadya *hug Nadya* semoga km suka ya sama nih cerita J *klo kgag suka lempar aja pake panci D.O* waks~
-
-

Ini bagian Xiumin oppa. .mian klo typo bertebaran dimana-mana. .

-
-

Happy reading~~

-
-
-
-


Mungkin semua teman kelas ku akan iri terhadap ku karena aku memiliki seorang oppa yang selalu menjagaku dan menyayangiku layaknya aku adalah kekasihnya. Tapi aku sedikit sedih melihat kenyataan bahwa dia bukanlah oppa kandungku. Dia hanyalah tetanggaku sebelah rumah yang sudah aku anggap sebagai oppa kandungku sendiri. Tapi dibalik anggapan itu aku memiliki sebuah perasaan suka padanya. Aku begitu menyukainya. Bahkan sekarang aku merasakan kalau aku sudah menaruh cinta padanya. 

Oppa ku begitu tampan sekaligus sangat imut sekali. Tapi kalian semua jangan tertipu dengan wajahnya. Dia sudah berumur 24 tahun. Aku saja sempat tertipu saat pertama kali bertemu dengannya. Aku kira dia masih seumuran denganku. Tapi sudahlah aku tidak peduli dengan itu semua. Yang jelas aku sangat senang meiliki oppa seperti dia.

Setiap hari saat aku akan berangkat ke sekolah, oppa selalu menungguku di depan rumah. Mengantar ku ke sekolah dan dia juga menjemputku sepulang sekolah. Aku benar-benar bisa memamerkan dia pada semua teman satu sekolah ku.

“Nadya, dia siapa? Apakah dia namjachingu mu?”

“Dia sangat tampan sekali.”

“Wajahnya begitu imut. Aku ingin mencubit pipinya.”

“Bisakah aku berkenalan dengan dia Nadya?”

“Kau sangat beruntung sekali memiliki oppa seperti dia.”

“Aku sangat iri denganmu Nadya.”

Seperti itulah semua komentar yang aku terima setiap kali oppa datang mengantar dan menjemput ku kesekolah. Tapi aku hanya bisa tersenyum senang dan yahh merasa bangga memilikinya. Senang. Bahagia. Bangga. Itulah yang selalu aku rasakan setiap kali bisa dengannya.

Tapi aku merasa sudah sebulan ini oppa tidak seperti biasanya. Dia sekarang sedikit menjauhiku. Aku tidak tahu apa alasannya sampai dia bersikap seperti itu kepadaku. Setiap kali aku ingin menemuinya selalu saja dia tidak ada waktu. Atau memang dia sengaja menghindariku. Aku terus menghubunginya setiap hari. Menanyakan apakah dia sedang sibuk atau tidak. Seperti sekarang saat aku benar-benar sendirian dan ingin bersama dia.

“Oppa kau dimana? Aku sendirian sekarang.”

“Maaf Nadya aku sedang sibuk. Lain waktu saja aku akan menemanimu.”

“Mengapa sekarang oppa sibuk seperti ini? memang apa yang oppa sibukan sampai tidak ada waktu untuk menemaniku.”

“Maaf Nadya.”

Kata itu yang selalu menjadi penutup pembicaraan ku dengannya. Hanya kata maaf yang dia ucapkan kepadaku tanpa menjelaskan apapun lagi. Oppa aku sangat merindukanmu.
-
-
-
-
Sudah beberapa bulan ini aku terus menunggu kedatangan oppa. Tapi tetap saja kesibukan dia menjadi hal pertama yang dia kerjakan. Bukannya aku egois dan tidak mengerti akan apa yang oppa kerjakan tapi tolonglah siapa saja pasti sangat resah orang yang dekat denganmu tiba-tiba pergi meninggalkanmu tanpa sedikitpun alasan yang aku ketahui sama sekali.

Dalam beberapa bulan itu juga semua teman sekolah ku terus saja menanyakan tentang oppa ku. Aku tidak tahu harus menjawab apa pada mereka semua. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku saja. Aku merasa sangat malu pada teman sekolah ku karena dulu aku pernah bersikap sombong pada mereka karena memikili oppa sepertinya. Sekarang aku begitu malu dengan ini semua.

“Nadya dimana oppa kesayangan mu itu?”

“Mengapa akhir-akhir ini aku tidak melihat dia menjemputmu di sekolah?”

“Apakah kalian sedang bertengkar tentang sesuatu hal?”

“Aku sangat merindukan wajah tampan dan imutnya itu.”

“Makanya jadi orang jangan terlalu sombong hanya karena kau memilki oppa tampan seperti dia. Sekarang kau lihat sendiri bukan kalau oppa mu pergi meninggalkan mu.”

“Kasihan sekali Nadya.”

“Berbaiklah lagi pada oppa mu itu.”

“Aku menunggu kau dan dia kembali lagi Nadya.”

Aku sungguh merasa dunia ku sudah berakhir. Setiap hari aku terus mendapatkan komentar-komentar yang selalu sukses membuatku ingin menangis saja. Dada ku begitu sesak setiap kali aku mendengar teman-teman ku mulai berkomentar jelek kepadaku. Oppa apa yang harus aku lakukan? Aku ingin oppa kembali lagi seperti dulu. Menjadi oppa yang menjaga ku dan menyayangiku. Aku sungguh merindukanmu oppa.
-
-
-
-
Hari minggu. Dulu hari minggu selalu membuatku senang karena hanya hari minggulah aku bisa memiliki oppa sepenuhnya. Oppa selalu menemaniku seharian penuh. Kita selalu berjalan bersama. Bermain bersama. Menghabiskan waktu tanpa sedikitpun ada rasa kecewa. Tapi sekarang hari minggu ini menjadi hari yang mendung bagiku. Hari yang sangat membuatku bosan. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk menghabiskan waktu liburku ini.

Aku terus memainkan handphoneku sampai aku benar-benar merasa bosan. Sampai akhirnya aku pun tertidur pulas. Tapi bunyi sebuah pesan dari handphone ku membuatku terbangun dari tidurku. Aku mengerang kesal. Ku lihat siapa nama pengirim pesan yang sudah berani mengganggu tidurku. Seketika aku terlonjak kaget dari tempat tidurku. Aku tidak salah lihat bukan? Aku tidak salah baca bukan nama pengirim pesan ini? nama oppa tertera dilayar handphoneku. “Xiumin Oppa.” Oppa yang mengirim pesan ini. Ini benar oppa ku bukan?

Dalam pesannya dia menulis, “Keep smile and happy cause your smile and happiness is my smile and my happiness.”

Aku begitu bahagia dia menulis pesan seperti ini. Setelah sekian lama aku menunggu dia membalas pesanku dan sekarang akhirnya oppa membalasnya juga dengan pesan seperti ini. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. “Xiumin Oppa calling.” Oppa menelpon ku. Tanpa pikir panjang aku langsug menjawabnya.

“Yeo…yeobosaeyo oppa.” mengapa aku terbata-bata seperti ini? tolong jantung jangan membuatku seperti ini. Tolong jangan berdebar disaat seperti ini.

“Yeobosaeyo Nadya.”

Aku merasa jantung ku akan lepas dari semua jaringan yang mengikat kuat jantungku. Aku ingin pingsan saja sekarang. Ohh tolonglah siapa saja aku butuh pertolongan kalian sekarang.

“Mengapa kau diam saja? apakah aku mengganggu hari minggu mu ini?”

“Menganggu? Tentu saja tidak oppa. Aku sangat senang kau menghubungiku sekarang.” Rasanya aku ingin menangis. Mendengar suara oppa yang sudah lama tidak aku dengar. Mendengar dia menggail namaku. Aku begitu rindu akan itu semua. Dan sekarang aku benar-benar mengeluarkan cairan bening dari mataku. Aku mulai menangis.

“Nadya, gwaenchana? Kau menangis? Wae?”

“Nan gwaenchana oppa. Aku menangis karena aku sangat merindukanmu.”

“Bisakah kau datang ke taman dekat rumah? Aku menunggumu disini. Palliwa.”

Tiba-tiba telpon kami terputus. Apakah aku tidak salah dengar tadi? Oppa menyuruhku datang ke taman dekat rumah dan dia menungguku. Sedetik aku hanya bisa menjadi patung berdiri. Sedetik kemudian aku langsung pergi mandi. Mengobrak abrik isi lemariku mencari baju yang pas agar aku terlihat cantik di depan oppa hari ini. Dan yahh semua beres dan aku mulai berlari kecil menuju taman dekat rumah untuk menemuinya. “Oppa tunggu aku. Aku akan kesana.”

Tidak butuh waktu yang lama untuk sampai di taman dekat rumah. Aku melihat oppa sedang duduk manis di ayunan sambil melihat kearah atas. Melihat awan yang cerah hari ini. Aku menghampirinya. “Xiumin oppa.” Dia sedikit terkejut akan kedatangan ku. Lalu dia memberikan senyuman manis kepadaku. Aku merasa kaki ku bergetar melihat senyumannya. Senyuman yang begitu aku rindukan. Aku berjalan menuju ayunan disebelahnya dan duduk diayuan itu.

“Apakah pekerjaan oppa sudah selesai?”

“Belum selesai.”

“Lalu mengapa oppa menyuruhku kemari bila pekerjaan oppa belum selesai?”

“Aku merindukan mu Nadya. Aku ingin melihatmu.”

Oppa merindukanku? Apakah aku tidak salah mendengar?

“Apakah kau tidak merindukanku?”

“Tentu saja aku merindukan mu oppa. Aku sangat merindukanmu seperti orang gila.”

“Maaf aku sudah bersikap menjauhi mu Nadya.”

“Memang apa yang oppa kerjakan sehingga oppa sampai menjauhi ku seperti itu?”

Mengapa disaat seperti ini aku harus menangis? Aku benar-benar sudah tidak bisa menahan air mataku sekarang.

“Aku menyukai seseorang Nadya. Tapi aku tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan tentang perasaan ku kepadanya. Aku terus berusaha untuk melupakannya tapi aku tidak bisa. Dia selalu sukses membuatku terus mengingat akan wajahnya.”

Perkataan oppa membuat hatiku begitu sakit. Aku merasa sebuah pisau menusuk hatiku sekarang. Oppa menyukai seseorang? Siapa yeoja itu yang berani membuat hubungan ku dengan oppa menjadi jauh seperti ini?

“Kau menyukai seseorang oppa? jadi karena alasan itulah kau menjauhiku?”

“Benar. Aku sungguh minta maaf kepadamu Nadya.”

Ohh ayolah aku ingin pergi sekarang. Aku tidak ingin meneruskan percakapan ini lagi. Hatiku akan bertambah sakit bila percakapan ini terus berlanjut.

“Jangan menangis. Bila kau menangis aku akan merasakan sakit juga. Awan yang sekarang cerah akan berubah menjadi mendung dalam hatiku.”

Oppa menghapus air mataku. Aku sedikit terkejut melihat dia menghapus air mataku seperti ini. Aku memandangi dia beberapa detik. Wajah yang aku rindukan sekarang sudah tepat berada dihadapan ku. Ingin rasanya aku memeluknya tapi aku tidak bisa melakukannya. Sekarang oppa bukan milik ku sepenuhnya.

“Kau ingin tahu siapa orang yang ku sukai?”

Aku mengangguk pelan. Aku sudah tidak bisa lagi mengeluarkan kata-kata dari bibirku ini. Oppa mengeluarkan sebuah surat dari dalam kantong jaketnya. Dia menyerahkan surat itu kepadaku.

 “Bacalah.”

Aku masih memandangi surat yang sekarang sudah ada di tangan ku. Apakah isi surat ini tentang yeoja yang oppa sukai? Aku tidak ingin membacanya. Aku tidak ingin mengetahui isi surat ini. Dengan berat hati ku buka surat itu dan mulai ku baca perlahan.

Gadis cantik dimanapun kau berada
Aku tahu saat aku melihatmu, kau telah membuka pintu hatimu untuk ku
Aku tahu akan merasakan cinta lagi setelah sekian lama

Kau menyapa dan aku berpaling pergi
Tapi sesuatu di matamu membuat hatiku berdegup kencang
Aku tahu begitu saja bahwa aku akan merasakan cinta lagi setelah sekian lama

Semua ini permainan takdir
Karena ketika akhirnya cinta datang kepadaku
Aku bergegas hanya untuk ada padamu

Dimanapun kau berada, aku takut bahwa aku telah kehilanganmu selamanya seperti sebuah lagu malam yang kudengar habis saat aku terlelap dalam mimpi ku

Gadis cantik, akan kucari dirimu
Hingga kudekap seluruh keindahanmu
Kau telah membuatku merasakan cinta lagi setelah sekian lama
Aku jatuh cinta lagi
Dan aku senang yang ku cinta adalah dirimu…

Aku tidak mengerti dengan isi surat ini. Mengapa isi surat ini seperti ditujukan kepadaku? dan kata terkahir yang membuat ku bertanya, “Dan aku senang yang ku cinta adalah dirimu.” Apakah yang dimaksud dirimu itu adalah aku?

Aku melihat kearah oppa berdiri sekarang. Mengapa oppa hanya diam saja? Mengapa dia tidak menjelaskan maksud dari surat ini kepadaku?

“Oppa…”

“……”

“Xiumin oppa…”

“Kau sudah selesai membacanya?”

“Iya. Aku sudah selesai membacanya. Surat ini kau tujukan untuk siapa?”

“Apakah kurang jelas isi surat itu? Kau masih belum mengerti surat itu untuk siapa?”

Aku menggeleng pelan. “Benar oppa. Aku belum mengerti isi surat ini.”

Xiumin oppa menghampiriku. Duduk berjongkok dihadapanku dan mengusap pelan rambutku.

“Kau masih saja polos Nadya.”

Aku hanya tersenyum mendengar dia berkata seperti itu. Merasakan dia mengusap rambutku seperti tadi membuat ku ingin memeluknya saja.

“Surat itu untuk dirimu Nadya. Yeoja yang aku sukai adalah dirimu. Apakah kau masih belum mengerti juga?”

Aku terdiam sebentar. Hanya mengedipkan mataku seperti orang bodoh. Orang yang oppa sukai adalah aku? Yeoja yang oppa tadi ceritakan adalah aku? Aku sedang tidak bermimpi bukan? Dengan tidak langsung sekarang oppa menyatakan perasaannya kepadaku. Apakah benar itu?

“Mengapa kau hanya diam saja?”

Xiumin oppa berdiri dan berjalan perlahan ketengah taman. Tanpa sadar senyuman manis muncul di wajahku. Aku tersenyum dengan semua yang terjadi hari ini. Senyuman bahagia yang membuatku benar-benar melayang. Aku berdiri dan berjalan menghampirinya.

“Bisakah oppa bilang, ‘Aku menyukaimu Nadya.’”

“Mengapa aku harus mengatakannya? Bukankah di surat itu sudah cukup kalau aku sudah mengatakan perasaan ku yang sebenarnya padamu?”

“Memang benar tapi aku ingin mendengar langsung dari suaramu oppa. Ayolah katakanlah. Aku ingin mendengarnya.”

“Baiklah, baiklah.”

Xiumin oppa berbalik dan menghadap kearah ku. Dia menggenggam erat tangan ku. Jantungku benar-benar berdebar sangat cepat sekarang.

“Aku menyukaimu Nadya. Maukah kau menjadi kekasihku?”

Kata-kata itu sukses membuatku ingin pingsan sekarang. Kata-kata yang selalu aku mimpikan sekarang menjadi kenyataan. Xiumin oppa menyatakan perasaannya kepadaku hari ini.

“Tentu saja. Tentu saja aku mau menjadi kekasihmu oppa. Aku juga menyukaimu. Sangat menyukaimu.”

Dengan penuh semangat dan getaran hatiku yang begitu hebat aku menjawab pertanyaannya. Akhirnya perasaan ku terbalaskan juga. Oppa sekarang benar-benar menjadi miliki ku sepernuhnya.

“Oppa bolehkah aku memelukmu sekarang?”

“Tentu saja kau boleh memuluk ku Nadya. Kemarilah.”

Aku memeluk Xiumin oppa dengan erat. Erat sampai aku tidak ingin melepaskan pelukan ini. Aku ingin terus memeluknya setiap hari. Tapi mengapa oppa melepaskan pelukannya? Aku masih ingin terus memeluk mu oppa.

“Mengapa oppa melepaskan pelukannya? Aku masih ingin memeluk mu oppa.”
Aku terus merengek padanya. Biasanya rengekanku akan selalu bisa membuat dia luluh dan pada akhirnya dia akan kembali memeluk ku. Tapi mengapa oppa tidak lekas memeluk ku kembali? Mengapa wajah oppa semakin dekat dengan wajahku? Aigoo jangan bilang oppa akan mencium ku?

Jantung ku masih terus berdebar dengan hebat sekarang. Wajah Xiumin oppa juga semakin dekat dengan wajahku. Aku masih belum siap bila aku dan oppa berciuman sekarang. Apa yang harus aku lakukan? Aku hanya bisa berdiri mematung saja. Dan secara tiba-tiba aku merasakan sebuah bibir mungil menempel lembut ke bibir ku. Aku dan oppa sekarang benar-benar berciuman bukan? Aku terbawa dengan ciuman yang oppa berikan. Aku pun membalas ciumannya. Ciuman yang lembut dan sebuah pelukan yang hangat. Aku tidak ingin ini berakhir. Aku ingin terus begini. Bisakah aku menghentikan waktu meskipun hanya beberapa detik saja?

Xiumin oppa aku sangat menyukaimu. Aku sangat mencintaimu. Akhirnya aku bisa memiliki mu sepenuhnya. Akhirnya aku bisa memeluk mu sepenuh hatiku. Dan sekarang aku akan terus merasakan perasaan bahagia setiap hariku.

-End-

Akhirnya bagian Xiumin oppa selesai juga. Tanpa sadar aku buat nih cerita tanpa mikir inti ceritanya kyk gmn. Untunglah ceritanya jadi ngawur seperti ini :D


Pai~pai~ *aegyeo bareng Xiumin oppa*