Jumat, 28 Agustus 2015

ff special for my chingudeul (repost)

A Dream
-
-
For my chingudeul~ Ratna “dudu” Pertiwi ^^

I hope her loves this ff kkk~

Love from -XiuminShock-
(always love DuMin /chu~/)
-
-

Happy reading~

-
-

Senang rasanya memiliki seorang kekasih yang mencintai kita dengan sepenuh hati. Memiliki seorang kekasih yang mempunyai wajah tampan pasti juga sangat membahagiakan. Siapa juga yang tidak ingin memiliki kekasih yang tampan sekaligus sangat mencintai kita? Itulah yang aku rasakan saat ini. Aku memiliki kekasih yang sangat mencintaiku dan juga dia sangat tampan sekali. Wajahnya yang kadang-kadang terlihat seperti anak kecil itu, begitu imut dan menggemaskan bila orang melihatnya. Matanya yang bulat besar dan jangan lupakan bibirnya yang begitu kissable berbentuk seperti sebuah hati yang begitu ingin aku menciumnya.

Aku bertemu dengan kekasih ku di bandara saat aku sedang terburu-buru sekali karena aku takut akan ketinggalan pesawatku menuju Korea dan saat itulah moment ku dengannya bertemu. Aku tidak sengaja menabraknya. Mungkin bila aku tidak menabraknya saat itu pasti sekarang aku tidak akan menjadi kekasihnya.

-Flashback-

“BRUKK!”

“Maaf. Maafkan aku.”

Aku melihat dia yang duduk terjatuh bangun dengan tampang yang aahhhh membuatku sangat speechless. Wajahnya sangat tampan dibalik kacamata hitamnya. Gayanya yang sangat cool dan jangan lupakan senyumanya yang sudah membuatku begitu langsung jatuh hati padanya. Yahh bisa dibilang aku langsung jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu pertama kali dengannya.

“Kau tidak apa-apa?”

Suaranya membuatku ingin melayang. Aku masih belum tersadar dari lamunanku. Aku terus saja memandanginya. Aku baru tersadar dari lamunanku saat mendengar sebuah pemberitahuan bahwa sebentar lagi pesawat yang akan aku tumpangi akan lepas landas.

“Aku tidak apa-apa. Maaf sudah menabrakmu.”

Aku menunduk beberapa kali padanya dan langsung pergi meninggalkannya. Dengan sedikit berlari kecil aku masih terus menoleh kebelakang melihatnya. Aku mengerang kesal dalam hatiku. Mengapa disaat seperti ini aku harus berpisah dengan namja tampan seperti dia? Akhirnya aku masuk dalam pesawat dan memilih tempat duduk ku.
-
-
Skip Time
-
-
Sudah sebulan sejak kejadian dibandara itu. Aku terus saja memikirkan namja yang kutabrak dibandara sebulan yang lalu. Mengapa wajah namja itu tidak bisa hilang dalam pikiran ku? Seandainya ada seorang peri yang bisa mengabulkan permohonanku sekarang, aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, tapi itu sangat tidak mungkin terjadi. Di dunia ini memang ada seorang peri? Ini bukanlah dunia fantasi seperti halnya yang ada di cerita dongeng. Ini adalah dunia yang nyata dimana seorang peri itu sama sekali tidak ada. Tapi sekali lagi aku terus memikirkan hal itu. Peri kumohon datanglah. Aku ingin kau mengabulkan permohonanku.

Saat aku berjalan tanpa memikirkan jalan yang aku ambil, tiba-tiba seseorang menarik lengan ku kepinggir jalan. Aku terkejut melihat seorang ahjumma sekarang sedang mencengkram lengan ku. Tidak begitu kencang tapi itu sudah sukses membuat ku takut. Bagaimana tidak? Seorang ahjumma yang tidak kau kenal menarik mu dan sekarang dia menatapmu dengan tajam seolah-olah kau adalah seorang tahanan yang sedang di introgasi sekarang.

“Ahjumma apa yang kau lakukan? Mengapa kau menatapku seperti itu? Lepaskan aku!”

Sungguh sikap ahjumma ini sudah membuatku takut setengah mati. Perkataan ku sama sekali tidak di dengar olehnya. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku harus melepas paksa cengkramannya dan lari sekuat tenaga meninggalkan tempat ini?

“Kau ingin bertemu dengan seorang namja yang sebulan lalu kau tabrak dibandara bukan?”

Aku begitu terkejut mendengar ahjumma berkata seperti itu. Apa yang ahjumma ini katakan? Mengapa dia bisa tahu keinginanku? Apakah dia bisa membaca pikiran ku? atau memang dia seorang pembaca pikiran sehingga tahu semua pikiran orang-orang yang lewat disini?

“Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya, tapi kau tidak bisa melihatnya langsung. Kau hanya bisa melihat dia dari jauh dan dibalik punggunya saja.”

Apa aku akan bertemu dengannya? Bertemu dengan namja tampan itu? Apa tidak salah ucap ahjumma ini? Dia gila atau sedang menipuku sekarang? Tapi tidak mungkin kalau dia menipuku. Kalau dia menipuku, mengapa ahjumma ini tahu sekali apa keinginan ku? Dan perkataannya sangat tepat sekali. Setelah itu ahjumma langsung melepaskan cengkramannya dari lengan ku. Aku masih belum bisa pergi meninggalkannya. Aku masih menatap ahjumma itu dengan wajah bertanya.

“Pergilah sekarang. Sebentar lagi kau akan bertemu dengannya.”

Aku langsung pergi dengan langkah pelan. Aku terus memikirkan semua ucapan yang ahjumma tadi katakan kepadaku. Apakah aku harus mempercayai semua perkataan ahjumma tadi? Tidak mendapatkan seorang peri yang aku inginkan sekarang aku bertemu dengan seorang ahjumma yang bisa membaca pikiran seseorang. Apakah sekarang aku mulai mempercayai kalau ahjumma itu bisa membaca pikiran seseorang? Aahhh sudahlah. Aku tidak ingin memikirkan hal itu.
-
-
Setelah lelah seharian berjalan dan terus berperang dengan pemikiranku tentang perkataan ahjumma asing tadi, aku masuk ke dalam kedai bubble tea. “Mengapa kedai ini selalu ramai setiap kali aku kemari?” Aku berjalan menuju antrian yang bagiku sangat panjang sekali.

Saat aku berjalan maju menuju antrian seketika itu juga aku melihat namja yang sangat mirip dengan namja yang aku tabrak dibandara sedang berjalan keluar dari kedai. “Apakah aku tidak salah melihat tadi? dia adalah………..” aku langsung bergegas pergi keluar kedai tanpa memikirkan lagi rasa lelah ku. Aku menolehkan pandangan ku ke segala arah dan aku melihatnya sedang berjalan menuju lampu merah penyebrangan. Aku mengejarnya dengan berlari tanpa memikirkan siapa pun orang yang aku tabrak sekarang.

“Aku mohon jangan pergi. Aku hanya ingin melihatmu saja. Aku ingin memastikan apakah benar itu kau.”

Sepertinya ini bukan hari keberuntungan ku. Dia sekarang telah berjalan menyebrangi jalan keseberang. Aku ingin mengejarnya tapi mengapa disaat seperti ini lampu merah menyala? Dengan hati yang sangat berat aku hanya bisa memandangi punggungnya dari kejauhan.
-
-
Aku sangat malas untuk masuk sekolah hari ini. Semua pemikiran tentang namja bandara itu sudah membuatku kehilangan semangat ku. Hari ini aku ingin tidur saja di perpustakaan. Membolos disaat pikiran sedang kacau tidak masalah bukan? Hanya sekedar menyegarkan otak saja.

Aku berjalan pelan menuju perpustakaan dengan wajah yang terlihat kusut dan tanpa adanya semangat. Aku berjalan dengan lunglai dan tanpa sadar seseorang sekarang sedang menghalangi jalan ku. Aku mendongak melihat siapa orang yang sudah berani menghalangi jalan istirahatku menuju perpustakaan. Aku langsung terkejut dan langsung bangun dari rasa malasku melihat orang yang sekarang sedang berdiri dihadapan ku ini. Aku terus mengedipkan mata ku. Percaya atau tidak. Mimpi atau tidak hari ini. Aku melihat namja bandara ada dihadapan ku sekarang. Dia tersenyum dan menyapaku.

“Nana..”

Aku ingin pingsan sekarang. Benar ini adalah namja bandara itu. Namja yang ingin aku temui. Namja yang sudah membuatku kehilangan semangat ku. Dia benar-benar ada dihadapan ku sekarang.

“Ayo ikut aku sekarang.”

Dia langsung menggandeng tangan ku dan menarik ku untuk ikut bersamanya. Aku masih belum bangun dari kesadaraanku. Aku merasa ini adalah sebuah mimpi. Mimpi yang sangat indah. Baiklah kalau ini adalah sebuah mimpi aku akan mengikutimu kemanapun kau pergi.

Di atap sekolah sekarang, aku dan dia sedang duduk manis sambil melihat pemandangan sekolah dari atas. Dia menggenggam tangan ku dengan erat sedangkan aku menyandarkan kepalaku dibahunya. Senangnya aku bisa seperti ini dengannya.

“Kau adalah namja yang aku tabrak dibandara sebulan yang lalu bukan?”

“Benar.”

“Bolehkan aku tahu nama mu?”

“Bukankah kau sudah tahu namaku?”

Aku mengernyitkan keningku. Memang siapa namanya? Aku tidak tahu. Dengan malu-malu aku pun bertanya namanya lagi padanya. “Memang siapa nama mu? aku tidak tahu.” Dia tersenyum manis lalu mengelus lembut rambutku. “Kyungsoo.” Aku tersenyum lebar mendengar namanya. “Kyungsoo oppa. Nama yang bagus. Tapi apakah kau mengenalku? Kita bahkan hanya bertemu saat kejadian tabrakan itu.” Lagi dia hanya tersenyum padaku.

Baiklah aku tidak akan bertanya lagi padanya. Aku tidak akan bertanya lebih jauh lagi. bagiku seperti ini saja sudah membuatku senang. Aku hanya ingin terus seperti ini dengannya. Aku tidak ingin bangun dari mimpi indah ini. Tolong siapa saja, eomma, appa, oppa, jangan bangunkan aku sekarang. Aku masih ingin melanjutkan mimpi indah ku ini.

-Flashback End-

 “Nana bangun. Cepat bangun!!”

Suara siapa ini? siapa yang sudah membangunkan ku dari mimpi indah ku?

“Nana cepat bangun!! Kyungsoo sudah menunggumu dibawah.”

Kyungsoo? Apakah aku tidak salah dengar? Bukankah Kyungsoo hanya nama yang ada dalam mimpi ku. Aku langsung menyibak selimutku dan ternyata aku melihat bayangan eomma sudah pergi meninggalkan kamarku. “Kyungsoo? Eomma menyebut nama Kyungsoo oppa? Tidak mungkin.” Aku langsung bangun dan berdiri mengumpulkan nyawa ku sebentar. Setelah itu aku turun kebawah melihat apa yang eomma katakan tadi. Sampai bawah aku melihat seorang namja kurus sedang duduk memainkan ponselnya. Aku akui, memang namja itu terlihat keren.

“Kau siapa?”

Namja itu berdiri dan menampakan senyum manis kepadaku. Astaga aku tidak salah lihat orang bukan? Ini benar Kyungsoo oppa? Aku melihat Kyungsoo oppa tersenyum kepadaku.

Apakah aku masih bermimpi sekarang? Aku mencubit lengan ku dengan kencang dan rasa sakit itulah yang aku rasakan saat ini. Aku sekarang tidak sedang bermimpi. Ini benar sebuah kenyataan. Kyungsoo oppa sekarang ada dihadapan ku.

“Mengapa kau mencubit lengan mu sendiri? Jangan sakiti dirimu Nana.”
Aku hanya tersenyum malu. Tanpa sadar aku langsung memeluknya. Memeluknya dengan sangat erat sekali. Benar ini kau oppa. Kau tidak hanya sebuah mimpi belaka. Aku bisa merasakan tubuhmu. Mencium aroma parfum mu. Ini benar kenyataan.

“Nana mengapa kau masih memakai piyama mu huh? Kau tidak malu Kyungsoo melihatmu seperti itu. Cepatlah mandi sekarang.”

Perkataan eomma membuatku malu. Memang aku masih menggunakan piyama sekarang.

“Baiklah eomma. Aku akan segera mandi. Oppa kau tunggu sebentar ya.”

Aku langsung bergegas menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi aku berganti baju dengan memilih baju terbaik ku. Aku ingin terlihat cantik didepan Kyungsoo oppa. Setelah beberapa lama mempercantik diriku aku aku pun turun menghampiri Kyungsoo oppa.
-
-
Melihat sekarang Kyungsoo oppa sedang bernyanyi membuatku sangat senang. Melihat kekasih menyanyikan lagu romantis untuk kita bukankah itu sangat membuat hati kita melayang entah kemana.

Setelah selesai dengan urusan menyanyinya, aku lebih memilih untuk berada disampinya sekarang. Menyandarkan kepalaku dibahunya. Sepertinya Kyungsoo oppa akan bercerita panjang lebar sekarang. Cerita tentang pertemuan ku dengannya dari awal sampai akhir. Aku tidak tahu mengapa dia sangat suka sekali menceritakan hal itu kepadaku berulang kali. Padahal semalam aku baru saja memimpikan soal ini.

Masih tetap terus bercerita, aku memainkan ponsel ku sambil mendengar ceritanya. Aku membuka galeri foto ponsel ku. Satu persatu foto Kyungsoo oppa aku lihat. Wajahnya yang tampan. Wajahnya yang begitu menggemaskan. Aku selalu menyukai wajah itu. Wajah yang sekarang benar-benar sudah berada di dalam hati ku. Wajah yang sudah membuatku ingin terus dengannya selamanya.

Memiliki seorang kekasih yang sangat mencintai kita rasanya begitu bahagia sekali. Seperti apa yang aku rasakan terhadap Kyungsoo oppa sekarang. Aku tidak menyangka pertemuan ku dibandara akan berakhir seperti ini. Aku dan oppa sepertinya sudah ditakdirkan untuk bersama. Kyungsoo oppa saranghaeyo.

-End-

Sabtu, 25 Juli 2015

FF XiuKris (Xiumin-Kris)

I Want To Love You Again
.
.
XiuKris
Xiumin – Kris
.
.
Just Romance
.
.
Happy reading~

(All ‘aku’ is Xiumin POV)

Aku sudah tidak tahu lagi apa itu yang namanya cinta. Kekasih atau orang yang mencintai kita. Aku sudah tidak peduli lagi dengan hal-hal yang berbau seperti itu. Jangan tanyakan mengapa aku tidak peduli dengan hal percintaan. Aku muak dengan kata cinta.

Aku menutup album kenangan sekolah ku. Melihatnya hanya membuat ku kembali teringat tentang kisah tragis percintaan ku dengan kekasih ku. Benar, dulu aku memiliki seorang kekasih. Dia begitu tampan, sangat disukai banyak teman di sekolah ku sampai-sampai aku selalu menjadi pusat perhatian bagi mereka. Kekasih ku itu memang orang yang terkenal disekolah terutama dikalangan para perempuan. Aku selalu malas setiap kali menemaninya bermain basket, selalu jeritan nama kekasih ku mereka keluarkan begitu keras. Bahkan sampai ada yang membuat sebuah fansclub untuk kekasih ku.

Aku memijat kening ku untuk menghilangkan semua ingatan tentang kekasih ku ini. Sudah tiga tahun sejak aku dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Aku duluan yang memberikan putusan itu. Aku mulai muak dengan sikapnya yang sudah mulai berani bermain kasar dengan ku. Memukul ku sampai badan ku lebam dan menendang ku layaknya aku ini seekor binatang liar. Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba berubah menjadi pria kasar. Tapi satu hal yang aku ketahui, dia dekat dengan seseorang. Mulai saat dia dekat dengan orang itu, sikap kasarnya mulai muncul. Entah hal apa yang orang itu lakukan pada kekasih ku sampai sikapnya berubah kasar denganku.

Aku ingat, saat itu aku sedang merayakan ulang tahun ku yang ke 20. Aku begitu senang melihatnya datang membawa sebuah hadiah yang aku inginkan. Sebuah anak anjing. Aku selalu memohon padanya untuk bisa memelihara seekor anak anjing. Pesta ulang tahun ku begitu meriah dan aku begitu hanyut dengan suasana senang dan tanpa aku sadari kekasih ku tiba-tiba merusak pesta ulang tahun ku. Dia memecahkan semua gelas yang ada meja dan dia menghancurkan kue ulang tahun ku dihadapan semua teman-teman yang ku undang. Aku tidak tahu mengapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu. Hanya sebuah kata yang aku ingat.

“Kau brengsek Xiumin!”

Setelah mengatakan hal yang begitu menyakitkan ku, dia langsung pergi meninggalkan semua kekacauan yang dia perbuat. Aku hanya bisa berdiam diri sambil memegang gelas minuman ku erat.

Sudahlah, lebih baik aku tidak mengingat dia lagi. Aku begitu membencinya. Dia adalah pria yang sudah membuat ku menutup hati ku sekarang. Aku sudah tidak peduli lagi.

“Xiumin hyung.” Aku menoleh kebelakang dan mendapati sepupu ku, Yixing, memanggilku. Dia melambaikan tangannya menyuruhku menghampirinya. Aku meletakan album kenangan sekolah ku dan mulai berjalan menghampirinya.

“Ada apa Yixing?”

“Hyung, bolehkah temanku menginap beberapa hari disini?”

“Teman mu? dia dari China juga?”

“Iya hyung. Bolehkah?”

“Baiklah tapi jangan lama-lama. Kau tahu sendiri ibu ku akan sangat marah bila tahu kalau aku membawa orang asing ke rumah.”

“Iya aku tahu hyung.”

“Baiklah kalau begitu. Oh iya aku mau ke supermarket sebentar. Berbelanja. Kau jagalah rumah.”

“Aku tidak bisa hyung. Sekarang aku mau keluar menjemput teman ku ini ke bandara.”

Aku menghela napas berat. “Baiklah kita pergi bersama kalau begitu.”

.
.
.
Setelah semua barang belanjaan sudah terbeli semua, aku langsung pergi dan menyetop sebuah taxi. Sampainya dirumah, aku melihat ada sebuah sepatu yang terlihat begitu asing bagiku ada di depan pintu rumah. “Pasti teman Yixing sudah datang.” Aku melepas sepatu ku dan masuk ke dalam rumah.

“Hyung kau sudah datang. Sini aku bawakan belanjaannya.”

Yixing langsung mengambil belanjaan yang aku bawa dan berjalan menuju dapur. “Teman mu mana? Aku tidak melihatnya.” Yixing terlihat sibuk menata bahan belanjaan yang aku beli. “Dia sedang ada di kamarnya hyung. Menata barang-barangnya.” Aku mengangguk pelan. Mengerti. “Aku ke kamar dulu kalau begitu. Bila kau perlu apa-apa panggil aku.” Yixing mengangguk dan kembali menata barang belanjaan di dalam kulkas.

Saat aku akan masuk ke kamar ku, seseorang keluar dari kamar yang ada di depan kamar ku. Dia langsung menyapa ku. “Haii kau pasti sepupu Yixing.” ‘Sepertinya aku pernah mendengar suara ini.’ Aku langsung berbalik dan melihat orang yang menyapa ku.

“Kau!/Kau!”

Secara bersamaa kami saling menunjuk kearah masing-masing dengan terkejut.

“Kau teman Yixing dari China itu?”

“Dan kau adalah sepupu Yixing?”

Jantung ku mulai berdebar melihat orang yang sekarang berdiri dihadapan ku ini. Dia, orang yang dulu pernah menjadi kekasihku ada di depan ku sekarang. Aku langsung berbalik, membuka pintu kamar ku dan menutupnya keras. “Aarrgghhh.” Aku menjerit keras di dalam kamar. “Mengapa aku bertemu dengannya lagi?” Aku mengacak rambut ku kasar dan langsung menghempaskan tubuh ku ke ranjang.

“Kau sepertinya terkejut sekali melihat ku lagi.”

Aku melihatnya sekarang ada di kamar ku. Sedang bersandar di tembok kamar ku dan melipat tangannya di dada. Dia sama sekali tidak berubah. Dia tetap sama seperti dulu. Seorang Kris yang begitu tampan. Beberapa detik aku melihatnya. Kagum akan dia yang masih saja tampan.

“Apakah kau tidak memiliki sopan sama sekali huh? Kau langsung masuk ke kamar ku tanpa mengetuk pintu dulu. Keluar dari kamar ku sekarang.”

Aku melempar bantal kearahnya. Lagi aku melempar bantal kearahnya. Kris hanya diam dan langsung berjalan kearah ku lalu duduk di samping ku. Menarik ku agar kami bisa berhadapan.

“Bisakah kau menyambut ku dengan baik sayang?”

“Jangan memanggil ku dengan sebutan itu bodoh.”

Dia tersenyum dan mengacak rambutku gemas. “Kau masih sama seperti dulu Xiumin. Pipi mu juga masih bulat seperti bakpao.” Dia mengelus pelan pipi ku. Sepertinya sekarang wajah ku berubah menjadi merah. Tidak. Jangan seperti ini lagi. Aku tidak mau merasakan hal ini lagi.

Aku menepis tangannya kasar. “Jangan menyentuh ku.” Aku menatapnya tajam. Ini begitu tiba-tiba bagiku. Aku bertemu lagi dengannya setelah tiga tahun lamanya seperti ini. Aku tidak sedang bermimpi bukan? Ini tidak mungkin Kris.

“Jangan menatap ku seperti itu Xiumin. Aku sudah bukan Kris yang dulu lagi.”

Wajah Kris menampilkan raut wajah yang terlihat sedih. Memang apa salahnya aku memasang wajah kesal padanya? Aku kan membencinya jadi wajar saja aku memasang wajah kesal ku. Aku menghela napas ku dalam. “Lebih baik sekarang kau keluar dari kamar ku.” dia berdiri dan langsung menarik daguku untuk melihatnya. Wajah kami begitu dekat sekarang. Kami saling menatap kedalam mata masing-masing. Tidak. Aku tidak mau melihatnya sedekat ini. Jantung ku kembali berdetak cepat.

“Senang bisa bertemu lagi dengan mu Xiumin.” Kris mencium keningku lembut lalu pergi meninggal ku yang masih terdiam sambil mengedipkan mata ku tak mengerti. Aku melihat arah pintu kamar ku. “Mati kau Kris!” aku melempar bantal ke pintu kamar ku dan entah sejak kapan tiba-tiba Yixing sudah ada di depan kamar ku dan terkena lemparan bantal ku.

“Hyung kau kenapa? Mengapa melempar bantal kearah ku?”

Aku langsung memasang senyum bodoh. ‘Ini semua karena si bodoh itu!’ Yixing mendudukan tubuhnya disamping ku. “Kris bilang dia sudah bertemu dengan mu. Dia bilang kau sangat baik padanya. Terima kasih hyung kau mau menerima Kris di rumah.” Yixing tersenyum dan menampilkan lekukan kecil di kedua pipinya. Dia terlihat begitu manis sekali tapi mengapa dia bisa mendapatkan teman seperti si bodoh itu. Aku hanya mengangguk dan terus tersenyum bodoh.

.
.
Malam harinya kami bertiga makan malam bersama. Aku memasang raut wajah malas ku. Bahkan sekarang aku mulai tak bernafsu untuk makan. Aku hanya memainkan makan ku dengan sendok saja. “Kau kenapa hyung? Apakah masakan ku tidak enak sehingga kau tidak mau makan?” ucapan Yixing langsung membangunkan ku dari acara berdiam diriku. “Tidak Yixing. Makanan mu sangat enak.” Aku melempar senyum manis pada Yixing. “Kalau enak, mengapa kau tidak memakannya, hanya memainkannya dengan sendok mu itu.” Ucapan Kris membuat ku langsung memasang wajah kesal lagi. “Aku hanya sedang tidak nafsu makan saja. Kalian lanjutkan saja makan malamnya. Aku kembali ke kamar ku.” Aku berdiri dari kursi ku dan mulai berjalan pergi meninggalkan ruang makan. “Setelah selesai makan aku akan mengantar makanan untuk mu hyung. Kau harus memakannya.” Aku hanya menghela napas ku kasar.

-Yixing POV-

Aku tidak mengerti mengapa Xiumin hyung terlihat begitu kesal tadi. Apa memang karena makanan ku tak enak? Aku menoleh kearah Kris yang masih mengunyah makanannya. Tapi bila tak enak mengapa Kris masih saja memakan makanan ku?

“Apakah masakan ku enak Kris hyung?”

“Enak sekali. Kenapa? Kau masih memikirkan sikap sepupu mu tadi?”

“Benar. Tidak biasanya Xiumin hyung seperti ini. Tadi juga saat aku masuk ke kamarnya tiba-tiba saja dia melempar bantal kearah ku.”

“Benarkah? Mungkin dia sedang mengalami haid.”

“Kris hyung, Xiumin hyung itu seorang pria tidak mungkin dia haid.”

Aku mendengar tawa Kris meledak. Mengapa dia bisa berkata seperti itu pada Xiumin hyung? “Sudahlah Yixing, pasti Xiumin sedang banyak pikiran jadi dia melampiaskan semuanya dengan melempar bantal itu.”

“Aku berharap juga begitu Kris.”

Setelah makanan ku habis aku mulai mengambil makanan lagi untuk Xiumin hyung. Kris menghampiri ku dan mengambil makanan yang akan aku antar untuk Xiumin hyung. “Biar aku saja yang mengantarnya. Aku mau sedikit berkenalan lebih jauh lagi dengan sepupu mu.” Aku mengerutkan dagu ku. “Baiklah. Semoga Xiumin hyung terhibur dengan kehadiran mu.” Kris tersenyum lebar dan mulai berjalan pergi ke kamar Xiumin hyung.

-Yixing POV end-

Aku mendengar pintu kamar ku diketuk. Aku beranjak dari ranjang ku dan berjalan malas untuk membuka pintu kamar ku. Aku terkejut Kris sekarang ada di depan kamar ku membawa sepiring makan malam untuk ku. “Dari Yixing. Kau harus menghabiskannya.” Dia menyerahkan makanan itu padaku. “Terima kasih.” Aku menutup pintu kamar ku tapi tangan Kris menahannya. “Aku harus memastikan bahwa kau menghabiskan makan malam mu ini.” Dia menghambur masuk dan melewatiku. “Bilang saja kalau kau ingin masuk.” Aku kemudian menutup pintu kamar ku.

Tatapan Kris membuat ku tak tenang memakan makan malam ku ini. Dia terus menatap ku tanpa beralih ke pandangan yang lain. Aku meletakkan sendok dan sedikit meminum air agar aku tak tersedak lalu menoleh kearahnya. “Bisakah kau tidak menatap ku seperti itu Kris? Kau membuat ku tak nyaman memakan makan malam ku ini.” Aku memutar bola mata ku malas. “Aku harus memastikanmu memakannya sampai habis.” Aku mendecak kesal dan kembali melihatnya. “Aku sudah selesai dengan makan malam ku. Kau lihat?” aku menunjuk piring yang ada dihadapan ku. Kris berdiri dan menghampiri ku. Dia tersenyum lebar dan mengelus rambutku. “Anak rajin” Aku menepis tangannya dari kepala ku. Aku tak senang dia melakukan ini padaku. Dikira aku anak kecil.

“Pergilah dari kamar ku sekarang.”

“Bagaimana bila aku tidak mau pergi?”

“Kau tidak mau pergi huh?” Aku mengambil  segelas air dan akan menyiram air ini kearah Kris tapi  dengan cepat dia menahannya. “Jangan lagi bertingkah seperti ini padaku Xiumin.” Kris mengambil gelas yang aku pegang dan menaruhnya. “Lepaskan aku.” Dia menatapku lama.

“Apa? Mengapa melihatku seperti itu?”

“Apakah kau masih marah kepadaku?”

“Tidak. Aku tidak marah kepadamu. Aku sudah melupakan semuanya.”

Kris melepaskan tangannya dari tanganku. Aku langsung berjalan menyenggol pundaknya. Dan mengapa aku meraskaan suasana ini begitu canggung untuk ku? Aku sudah lama tidak bertatapan lama dan sedekat ini dengan Kris. Debaran jantung ku juga selalu sama seperti dulu. Selalu berdebar cepat setiap kali Kris bersama ku. Tiba-tiba dia menarikku dan memeluk ku dari belakang. “Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku.” Aku meronta dalam pelukannya. “Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja.” Aku berhenti. Aku tidak mau. Aku tidak mau. Aku tidak mau.

“Mengapa kau bersikap seperti ini kepadaku? Apakah sebentar lagi kau akan memukul ku lagi seperti dulu?”

“Mengapa kau berpikir seperti itu?”

“Hanya perasaan ku saja.”

“Lalu apakah perasaanmu masih sama seperti dulu? Membenciku atau masih mencintaiku?”

Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Mengapa dia tiba-tiba bertanya seperti ini? Ini membuat ku benar-benar tak nyaman. Kris membalikkan badan ku dan menangkupkan tangannya di pipi ku.

“Apakah kau percaya bahwa aku masih mencintai mu Xiumin?”

Aku menggeleng.

“Apakah bila aku meminta maaf kau akan memaafkan ku?”

“Bukankah dulu aku sudah memaafkanmu?”

“Benar tapi aku lihat kau masih benci padaku.”

“…”

“Aku minta maaf Xiumin. Sikap ku yang dulu terlalu kekanakan dan aku menyesal sudah bersikap kasar kepadamu. Setelah aku bertemu dengan Yixing, dia benar-benar sudah membuka hatiku yang kekanakan ini. Dia memberiku nasihat yang membuatku ingin kembali kepadamu.”

“Mengapa kau tidak berpacaran saja dengan Yixing?”

Kris melepaskan tangannya dari pipi ku dan beralih merangkul pinggangku dan sedikit menarik ku agar lebih dekat dengannya. Dia tersenyum.

“Bila bukan karenamu aku pasti sudah berpacaran dengan Yixing sekarang.”

“Jadi maksudmu aku lah penyebab kau tidak bisa berpacaran dengan Yixing?”

“Benar. Tepat sekali. Kau tahu apa alasannya?”

Aku kembali menggeleng. Kris benar-benar sudah membuatku terlihat bodoh seperti dulu. Mengapa aku selalu lemah setiap kali berhadapan dengannya?

“Karena aku masih mencintaimu Xiumin.”

Dan dalam sekejap Kris menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku membulatkan mataku terkejut dengan apa yang dia lakukan. Dia mencium ku saat aku sedang lengah karena pikiran ku mulai penuh dengan dirinya. Kau benar-benar brengsek Kris!

Akhirnya dia melepaskan ciumannya dan kembali menangkupkan tangannya ke pipi ku. “Ini seperti saat aku menyatakan cinta padamu tiga tahun lalu. Aku mencium mu dan kau tidak ada reaksi sama sekali. Apa perlu aku mencium mu lagi agar kau mau membalas ciuman ku?”

“Kau benar-benar sudah merusak pikiran ku Kris. Selama tiga tahun ini aku sudah melupakan mu tapi hari ini kau membuatku kembali melihat masa lalu. Aku benar-benar membencimu.”

Dia tertawa pelan lalu menarik wajahku dan sedikit saja bibirnya akan menempel lagi dengan bibirku. “Aku mencintaimu Xiumin. Aku tahu kau masih memiliki perasaan terhadap ku kan?” Aku mendorongnya agar menjauh dari ku. Aku mengatur debaran jantungku yang terus saja berdebar cepat. “Lebih baik kau keluar dari kamarku. Yixing pasti akan mencari mu.” Aku mengambil nampan yang berisi piring dan gelas dari sisa makan malam ku dan menyerahkannya padanya.

“Ini ambil dan cepat keluar dari kamar ku.”

“Baiklah aku akan keluar tapi besok pagi aku akan kemari membangunkanmu.”

“Jangan bermimpi kau bisa membangunkan ku seperti dulu.”

“Kau masih ingat huh? Sepertinya besok aku akan melakukan hal itu. Memberimu morning kiss agar kau bangun.”

Aku meraih bantal dan melemparnya kearahnya. “Cepat pergi bodoh!”

Dia berlari cepat dan aku bisa mendengar disela-sela dia berlari, dia mengucapkan kata “Aku mencintaimu. Selamat malam.” Dia benar-benar bodoh. Aku membencinya.

.
.
.

Tak terasa ternyata Kris tinggal dirumah ku sudah sebulan. Apakah aku terlalu banyak berpikir tentangnya sampai aku tak sadar dia sudah tinggal dengan ku dan Yixing selama itu? Aku harus segera mengusirnya dari rumah sebelum ibu datang dan memarahi ku. Pagi ini aku akan mulai berbicara pada Yixing untuk mengusirnya keluar dari rumah.

“Hyung kau tega sekali mengusir Kris hyung keluar dari rumah.”

Yixing mulai menampakan wajah sedihnya. Dia mulai memelas tak jelas. Aku tidak bisa bila sudah melihatnya memasang wajah seperti itu. Aku berusaha agar pertahanan ku tetap kaut dan tak termakan oleh wajah sedih Yixing.

“Kau tahu sendiri kan ibu ku akan kembali satu minggu lagi dan aku tak mau ibu marah dan memarahi ku.”

“Aku akan menjelaskannya pada bibi.”

“Yixing, disini banyak penginapan mengapa dia tidak menginap saja di hotel atau dimana saja.”

“Itu yang itu aku mengerti hyung. Aku sudah berbicara padanya, sebenarnya aku hanya memberinya tumpangan disini selama seminggu tapi dia tiba-tiba berkata dia mulai nyaman tinggal dirumah ini dan dia masih ingin tinggal disini hyung.”

“Sampai berapa lama lagi dia mau tinggal gratis disini?”

“Dia berkata, sampai seseorang mau menerimanya kembali.”

Aku terkejut Yixing mengatakan hal itu. “Menerimanya kembali? Siapa?”

Yixing mengangkat bahunya. “Kekasihnya. Sebenarnya dia kemari karena ingin bertemu dengan kekasihnya hyung. Dia ingin meminta maaf lagi pada kekasihnya karena masalah masa lalu mereka. Saat dia bercerita padaku tentang kekasihnya itu dan masalah masa lalunya, aku dapat melihat dari matanya ada keseriusan yang mendalam maka dari itu aku akhirnya memberikannya tumpangan disini agar dia bisa bertemu dengan kekasihnya.”

Aku menelan ludah ku kasar. Keringat mulai membanjiri pelipisku. Jantungku tiba-tiba berdebabar cepat. Mengapa? Mengapa aku harus merasakannya lagi? Ayolah tidak mungkin aku masih mencintainya.

“Lalu apakah dia sudah bertemu dengan kekasihnya itu?”

“Sudah hyung. Dia bilang kekasihnya masih malu mengungkapkan perasaannya padanya. Aku tertawa mendengar Kris hyung bercerita tentang kekasihnya itu saat dia terus menggodanya.”

Brengsek! Bahkan dia bercerita pada Yixing. Dia bodoh!

“Kata Kris hyung, sebentar lagi pasti kekasihnya akan menerimanya lagi.”

Dia percaya diri sekali bahwa aku akan menerinya lagi. Aku tersenyum miring. “Dia akan menerima ku Yixing.” Aku dan Yixing menoleh ke sumber suara dari atas. Kris berdiri di pembatas lantai dua dan mulai berjalan turun menghampiri ku dan Yixing.

“Benarkah? Apakah hari ini kau akan bertemu dengannya lagi?”

Kris duduk disamping ku dan merangkul pundak ku. Jantung ku bila seperti ini terus pasti akan lepas dari tempatnya. Aku menelan ludah ku lagi. Badan ku mulai bergetar saat rangkulan Kris di pundak ku mulai mengerat.

“Aku sudah bertemu dengannya Yixing. Tepat disampimg ku.”

Aku menoleh kearahnya dan membulatkan mata ku. Secara tidak langsung dia berkata pada Yixing bahwa aku adalah kekasihnya. Dia bodoh atau bagaimana? Dia menoleh kearah ku dan tersenyum seperti orang bodoh.

“Jadi maksudmu kekasihmu adalah Xiumin hyung?”

“Benar. Xiumin adalah kekasih ku.”

Lebih baik jantung ku lepas saja daripada aku harus mendengar pengakuannya seperti ini. Dia menarik ku ke dalam pelukannya.

“Waahh jadi selama ini kekasih yang kau bicarakan kepada ku itu adalah Xiumin hyung? Tapi mengapa tadi Xiumin hyung seperti tidak tahu apa-apa saat aku bercerita tentang kekasih mu?”

“Sudah kubilang dia malu bila mengatakannya Yixing. Tapi sekarang aku akan membuatnya mengatakannya.”

Yixing terus melihat kearah ku dan Kris. Astaga ini seperti tontonan drama di layar televisi, hanya saja ini live kenyataan bukan dari sebuah scrip yang dibuat oleh penulis drama. Kris melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan ku erat.

“Aku mencintai mu Xiumin. Apakah kau mau menjadi kekasih ku?”

Aku melirik kearah Yixing. Dia terlihat begitu antusias dengan apa yang akan aku keluarkan dari mulutku sebagai jawabannya. Wajahnya benar-benar menunjukkan penuh harap bahwa aku akan menjawab akan menjadi kekasih Kris.

“Cepat hyung jawab pertanyaan Kris hyung? Kau akan menerimanya kan?”

Wajah ku berubah merah. Aku malu mengatakannya di depan Yixing. Aku menundukkan kepala ku. Menyembunyikan wajah ku agar Kris dan Yixing tak melihatnya.

“Baiklah bila kau malu mengatakannya, kau bisa menjawab dengan gerakan saja.”

Aku mengangkat kepalaku. Menatap Kris dengan tatapan bertanya. Kris mendekat dan berbisik kepadaku. “Bila kau tidak mau mengakuinya, kau bisa mencium ku sekarang dihadapan Yixing sebagai jawabannya.” Mataku seketika langsung membulat. Dia mempermainkan ku sekarang. Dia berani sekali. Aku tak percaya bahwa dia akan mempermainkan ku seperti ini.

Aku menoleh kearah Yixing. Tetap dengan wajah yang penuh harapnya dan aku beralih melihat kearah makhluk bodoh yang ada dihadapan ku ini. Aku menghela napasku dalam. Baiklah aku mulai menyerah sekarang. Kris menang dan aku kalah. Aku mengakui kalau aku masih mencintainya. Aku benar-benar tak bisa luput dari ketampanannya terlebih lagi aku sebenarnya tak benar-benar melupakannya selama tiga tahun ini. Aku masih terus berharap bahwa suatu hari nanti aku dan dia dapat bertemu kembali dan hari ini harapan ku telah terkabul.

Aku tersenyum padanya dan melepaskan genggaman tangan ku darinya kemudian aku menghambur datang memeluknya. Menempel pada dadanya yang bidang dan kembali merasakan detak jantungnya seperti dulu.

“Aku mencintaimu Kris. Kita kembali lagi seperti dulu.”

Senyum Kris dan Yixing mengembang begitu lebar dan tawa Kris mulai terdengar kencang. “Sudah kubilang dia pasti akan menerima ku kembali.” Aku melepaskan pelukan ku. “Hyung kau benar-benar telihat manis sekali. Baru kali ini aku melihat mu bersikap manis seperti ini.” Yixing menggenggam tanganku dan dia mulai menangis. Aku tidak tahu mengapa dia menangis. Apakah pertunjukkan drama ku dengan Kris sudah membuatnya menjadi melankolis seperti ini? Entahlah.

Sekarang yang pasti, aku mulai membuka lagi hati ku yang dulu tertutup dengan rasa benci pada seseorang. Seseorang itulah yang kembali membuat hati ku terbuka lagi. Seseorang yang sudah aku benci dan dia kembali dengan membawa rasa yang telah lama aku rindukan, cinta. Orang yang sudah membuat ku merasakan cinta yang emosional dan cinta yang begitu manis. Orang yang sudah membuat ku merasakan rasa rindu yang dalam dan rasa tak bisa berbohong dari hati. Kris, terima kasih karena telah mengabulkan harapan ku untuk kembali lagi dan bisa bersama lagi seperti dulu.

End.

Jumat, 17 Juli 2015

FF XiuHan/LuMin Couple Chapter 3 -Snow Angel-

Snow Angel

-Chapter 3­-


"Sepertinya aku harus menarik kata-kata ku ke Chanyeol tentang malaikat bersayap es. Dan aku benar-benar gila sekarang mempercayai perkataannya bila malaikat bersayap es itu memang benar adanya."

Rate : T

Genre : romance, fantasi

Main castnya bisa dilihat dicerita :3 siapa aja yang main :v

Warning : hanya sebuah imajinasi belaka, GS!, typo *maybe*, bila gag suka jangan baca!! No bash"-an!!



-Happy reading-



Suho kini memasang wajah seriusnya. Dia memulai bercerita siapa dia, siapa Xiumin, dan tentang kehidupannya. Mereka berempat juga sama memasang wajah yang tidak kalah serius seperti Suho. Mereka berempat begitu fokus mendengarkan cerita Suho. "Aku tidak menyangka bahwa Luhan hyung dan Sehun adalah reincarnasi dari seorang malaikat juga. Aku begitu iri." Chanyeol melipat tangan didada. Sedikit memasang wajah cemberut. "Yakk aku juga tidak tahu kalau aku dan Sehun adalah reincarnasi seorang malaikat." Kini Luhan angkat bicara. "Wahh...sepertinya Luhan hyung dan Sehunnie harus bersaing mendapatkan Xiumin-ssi." Baekhyun terkekeh. Luhan dan Sehun terlihat begitu malu. "Tapi siapa yang akan Xiumin-ssi pilih diantara mereka berdua sebelum mereka dibunuh?" Wajah Chanyeol tiba-tiba berubah menjadi serius. Menghilangkan rasa cemburunya pada Luhan dan Sehun yang tadi.

Xiumin mengangkat wajahnya sekarang. Menoleh kearah Suho sebentar. "Luhan hyung. Noona memilih Luhan hyung sebagai kekasihnya." Perkataan Suho membuat Luhan terkejut. Xiumin tersenyum kearah Luhan sekarang. Luhan semakin malu dan semburat warna merah terus saja berada diwajah Luhan. "Lalu apakah Sehun menerimanya? Menerima keputusan bahwa Xiumin lebih memilih Luhan hyung daripada Sehunnie." Pertanyaan Chanyeol membuat Xiumin angkat bicara sekarang.

"Tentu saja dia menerimanya. Dia menerima dengan lapang dada. Sehun berkata kepadaku, 'kalau itu sudah menjadi pilihan noona aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Usahaku akan sia-sia melawan keputusanmu. Tapi tetap saja aku selalu mencintaimu noona.' Itulah yang dia katakan kepadaku."

"Aku tidak menyangka bahwa maknae kita begitu bijaksana sekali." Puji Chanyeol.

"Tapi aku begitu bodoh bisa mencintai orang seperti Luhan."

Perkataan Xiumin membuat mereka berempat kaget. Terutama bagi Luhan. Dia seperti merasa tertimpa sebuah batu seberat berton-ton sekarang.

"Waeyo? Mengapa kau berkata seperti itu eunni?"

"Dia telah mengambil kalung yang begitu berharga bagiku. Tanpa kalung itu aku tidak bisa berbuat apa-apa. Kalung itu seperti sebuah nyawa bagiku. Jadi dengan kata lain Luhan telah mengambil nyawaku yang satunya."

"Lalu dimana kalung itu berada sekarang?"

"Dia terlihat begitu lemah. Apakah karena kalungnya tidak ada?"

"Mengapa Luhan hyung mengambil kalung itu?"

"Apakah Luhan hyung hanya memanfaatkan eunni untuk mendapatkan kalung itu? Apakah eunni masih mencintainya sampai sekarang?"

"Yakk pertanyaan kalian mengapa begitu banyak?"

Xiumin hanya terkekeh mendengar mereka semua tertarik dengan cerita ini. Xiumin menggenggam tangan Suho. "Gwaenchana Suho-yah. Pertanyaan seperti itu sudah wajar." Suho menarik napasnya panjang. Xiumin meneruskan kembali ceritanya.

"Aku sekarang tidak tahu kalung itu dimana. Tubuhku lemah karena memang kalung itu tidak ada. Aku tidak tahu mengapa Luhan mengambil kalung itu. Tentang memanfaatkanku, sepertinya itu tidak mungkin. Luhan begitu mencintaiku. Sampai sekarang aku masih mencintainya. Meskipun dia sudah membuatku tergeletak lemah seperti ini aku masih tetap mencintainya. Mungkin ada sesuatu yang membuat dia sampai mengambil kalungku."

"Luhan hyung begitu mencintaimu noona. Tapi dia sudah mati dan sekarang hanya ada reincarnasi darinya saja." Chanyeol menunjuk kearah Luhan. Xiumin hanya tersenyum manis mendengar ucapan Chanyeol.

"Noona kau semakin pucat saja. Lebih baik sekarang kau kembali kerumah saja. Aku akan mengantarmu pulang."

Xiumin mengangguk pelan kearah Suho. "Eunni bisa istirahat disini. Aku bisa menjaganya. Aku tidak mau eunni pergi." Baekhyun mulai merengek. "Dia tidak bisa tinggal lebih lama disini. Tubuhnya sudah sangat lemah. Bila dia tinggal lebih lama lagi disini, kemungkinan noona akan mencair. Lagipula sayapnya sekarang butuh perawatan. Sayapnya mulai mencair. Disini kau tidak akan bisa merawatnya." Perkataan Suho membuat mereka semua terdiam.

"Mencair? Maksud hyung, Xiumin noona akan meninggal bila dia terus berada disini?" Pertanyaan Sehun membuat Chanyeol, Luhan dan Baekhyun membulatkan matanya. Suho mengangguk pelan. "Benar. Suhu tubuh noona tidak cocok dengan suhu disini."

"Aku akan mencari kalung itu." Perkataan Luhan membuat semua mata tertuju kepadanya. "Bila aku bisa menemukan kalung itu apakah dia bisa diselamatkan?" Tanya Luhan. "Tentu saja. Kalung itu adalah nyawa baru bagi noona sekarang."

"Aku juga akan membantu Luhan hyung mencari kalung itu." Suara berat Chanyeol terdengar.

"Aku juga akan membantu. Meskipun aku seorang yeoja tapi aku kuat." Chanyeol tertawa kecil mendengar ucapan Baekhyun. Baekhyun memukul Chanyeol dengan keras membuat Chanyeol meringis kesakitan. "Meskipun aku tidak tahu apa-apa soal kalung itu, tapi aku akan ikut mencari kalung itu." Suho menghela napas beratnya. "Baiklah jika memang itu adalah pilihan kalian. Sebelumnya aku akan membawa kembali noona kerumah." Mereka berempat menganggukan kepala bersamaan. "Kita akan menunggumu kembali kesini." Suho kemudian pergi meninggalkan rumah Baekhyun sekarang.
-
-
-
-
Sudah seminggu semenjak kepergian Suho membawa pulang Xiumin kembali kerumah. Mereka berempat terus menunggu kedatangan Suho dengan perasaan yang khawatir dan penasaran akan bentuk kalung yang akan mereka cari. "Mengapa Suho oppa belum kembali juga? Aku begitu mengkhawatirkannya sekarang? Bagaimana dengan keadaan Xiumin eunni juga?" Kata-kata itu yang terus saja Baekhyun keluarkan. "Kita semua sama sepertimu Baekhyun-ah. Kita juga mengkhawatirkan keadaan Suho hyung dan Xiumin noona." Chanyeol merangkul pundak Baekhyun hanya sekedar membuatnya nyaman.

"Mengapa wajah kalian begitu kusut?" Perkataan itu membuat mereka berempat menoleh ke sumber suara. "Hyung." "Oppa." Suho tersenyum dan menghampiri mereka berempat. "Mianhae sudah membuat kalian khawatir." Baekhyun menghampiri Suho dan memeluknya. Suho dan Chanyeol begitu terkejut melihat perlakuan Bakehyun yang tiba-tiba.

"Oppa, aku begitu mengkhawatirkanmu. Bagaimana dengan Xiumin eunni? Apakah dia baik-baik saja?"

"Mianhae Baekhyun-ah. Aku sudah membuatmu khawatir. Noona baik-baik saja sekarang. Dia hanya perlu istirahat lebih lama untuk mengembalikan tubuhnya sehat kembali."

Baekhyun melepaskan pelukannya. "Benarkah? Lalu bagaimana dengan sayapnya?"

"Sayapnya...." Suho menggantungkan ucapannya membuat mereka berempat semakin penasaran dengan keadaan Xiumin. "Apakah sayapnya semakin mencair sekarang?" Pertanyaan Luhan membuat Baekhyun dan Chanyeol membulatkan mata mererka.

"Kau jangan membohongi kami hyung. Keadaan Xiumin noona sekarang begitu buruk bukan. Sayapnya sebentar lagi akan menghilang karena terus mencair setiap hari." Suho membulatkan matanya mendengar Sehun berkata seperti itu. "Aku dan Luhan hyung sudah tahu keadaan Xiumin noona bagaimana. Kau tidak bisa membohongi kita berdua hyung." Lanjut Sehun.

"Kau tahu dari mana bahwa keadaan Xiumin noona seperti itu Sehun?"

"Aku juga tidak tahu. Setiap malam aku selalu melihat Xiumin noona dalam pikiranku. Dan Luhan hyung juga memiliki perasaan yang sama juga meskipun dia tidak bisa melihatnya. Dia bisa merasakannya."

"Mengapa kau tidak memberitahu kami Sehun? Apakah kau tidak menganggap kami ada?"

"Bukan seperti itu noona. Aku dan Luhan hyung menyembunyikan kenyataan ini dari kalian berdua karena aku dan Luhan hyung belum pasti dengan semua yang aku lihat dan Luhan hyung rasakan tentang keadaan Xiumin noona sekarang."

"Meskipun begitu kau seharusnya tetap memberitahu kami Sehun. Luhan hyung juga."

"Sudahlah kalian semua jangan bertengkar. Ini semua kesalahanku. Mianhae aku tidak berkata jujur kepada kalian tadi. Yang dikatakan Sehun benar. Keadaan Xiumin noona sekarang lebih buruk."

"Kau harus menjelaskan semuanya oppa. Kau sudah membuatku dan Chanyeol kesal. Kau juga Sehunnie dan Luhan hyung."

"Mianhae Baekhyun-ah. Aku hanya tidak ingin kau lebih khawatir lagi. Aku akan menceritakan semuanya kepada kalian."
-
-
-
-

Mian klo chapter 3 nya agak aneh. Pas lanjutin nih cerita kgag ada imajinasinya sama sekali x_x

Sepertinya nih cerita kgag tahu bakalan dilanjut apa kgag. Tergantung mood dan imajinasi buat lanjutin nih cerita. Klo penasaran ditunggu aje ye sampe garing xD

Pai~pai~ *aegyeo bareng Xiumin oppa*

FF XiuHan/LuMin Couple Chapter 2 -Snow Angel-

Snow Angel

-Chapter 2-


"Sepertinya aku harus menarik kata-kata ku ke Chanyeol tentang malaikat bersayap es. Dan aku benar-benar gila sekarang mempercayai perkataannya bila malaikat bersayap es itu memang benar adanya."

Rate : T

Genre : romance, fantasi

Main castnya bisa dilihat dicerita :3 siapa aja yang main :v

Warning : hanya sebuah imajinasi belaka, GS!, typo *maybe*, bila gag suka jangan baca!! No bash"-an!!



-Happy reading-



Hari yang cerah menemani Luhan yang saat ini sedang menerima pelajaran dikelas pertama mereka. Luhan yang duduk dipojokan sepertinya memang benar-benar malas untuk mengikuti kelas hari ini. Bagaimana tidak, dia dari tadi terus saja memainkan handphonenya tanpa henti disaat Nam seonsangnim sedang menjelaskan pelajaran didepan. Suho yang duduk disamping Luhan terus saja berbisik untuk menghentikan kegiatan Luhan memainkan handphonenya. Dia tidak ingin Luhan terkena amukan Nam seonsangnim pagi-pagi seperti ini.

"Luhan hyung berhentilah memainkan handphonemu. Nam seonsangnim akan marah jika dia tahu."

"Berisik!"

"Jebal hyung...."

"Suho-ssi, ada apa? Apakah ada yang ingin kau tanyakan?"

"Ahh...a-aniyo seonsangnim."

"Luhan-ssi, bisakah kau pergi ke perpustakaan mengambil buku yang sudah saya titipkan disana?"

Dengan malas Luhan berdiri dan berjalan kedepan. "Ne seonsangnim. Memang buku seperti apa yang akan saya ambil?" Nam seonsangnim menunjukkan sebuah buku novel. Mengapa harus buku novel? Karena Nam seonsangnim adalah seorang guru sastra yang tergila-gila akan bahasan buku novel-novel fiksi. Luhan mengerang kecil dan menatap novel itu dengan malas. "Baiklah seonsangnim saya akan mengambilnya. Permisi." Setelah berpamitan dengan Nam seonsangnim Luhan berjalan dengan malas menuju perpustakaan. "Luhan hyung." Suara berat khas Chanyeol terdengar memanggil Luhan. Luhan menoleh dengan malas melihat sekarang Chanyeol sudah berada disampingnya saat ini.

"Wae? Aku sedang malas untuk berbicara saat ini."

"Kau pasti tidak percaya dengan apa yang akan kukatakan padamu hyung."

"Memang apa yang ingin kau bicarakan denganku?"

"Aku sudah bertemu dengannya. Bertemu dengan malaikat yang selama ini ingin kutemui."

Chanyeol begitu antusias menceritakan bila dia sudah bertemu dengan malaikat yang selama ini dia mimpi-mimpikan. Sedangkan Luhan hanya terus berjalan meninggalkan Chanyeol yang masih saja berbicara tentang malaikatnya.

"Yakk Luhan hyung dengarkan aku dulu. Aku belum selesai bercerita."

"Yakk Park Chanyeol! Bisa kah kau jangan menceritakan malaikat impianmu itu. Aku harus ke perpustakaan sekarang."

Chanyeol terus saja mengikuti arah langkah kaki Luhan menuju perpustakaan. Sampainya diperpustakaan Luhan langsung mengambil buku yang Nam seonsangnim suruh kemudian berjalan keluar perpustakaan setelah berpamitan dengan penjaga perpus tetapi Chanyeol terus menghalangi langkah Luhan untuk kembali ke kelasnya. Luhan kesal dan pada akhirnya dia menyerah dan mendengarkan cerita Chanyeol.

Diatap sekolah kini terlihat Luhan dan Chanyeol sedang berbicara serius. Salah. Chanyeol lah yang berbicara begitu serius dan bersemangat kepada Luhan. Luhan hanya mendengarkan cerita Chanyeol dengan malas. Seperti dia hanya mendengar cerita Chanyeol yang masuk ketelinga kanan dan keluar ketelinga kiri.

"Apakah kau masih ingat yeoja yang kemarin di gang sempit itu hyung?"

"......"

"Dia lah malaikat itu. Malaikat dengan sayap es."

"......"

"Dia sekarang ada dirumah Baekhyun. Nanti aku akan kesana menemuinya. Kau dan Sehun harus bertemu dengannya. Dia benar-benar nyata hyung. Dan dia begitu cantik."

"......"

Chanyeol yang kesal daritadi ceritanya tidak digubris oleh Luhan kini mengeluarkan handphonenya. Dia menunjukkan sebuah foto pada Luhan.

"Coba kau lihat hyung. Aku kemarin sempat memfotonya. Bagaimana dia cantik bukan?"

Luhan melihat foto seorang yeoja yang Chanyeol tunjukkan sebagai bukti bahwa yeoja itu adalah malaikat bersayap es.

"Dia hanya yeoja biasa Chanyeol. Memang dia begitu cantik tapi dia itu yeoja biasa. Bagaimana bisa kau menyebut dia malaikat bersayap es?"

"Bila hyung tetap tidak mempercayai ku, lebih baik nanti sepulang sekolah kau ikut saja kerumah Baekhyun. Kau lihatlah dengan kedua matamu sendiri."

"Baiklah nanti aku akan mengajak Sehun kerumah Baekhyun. Bila perkataanmu hanya sebuah bualan saja aku tidak akan pernah mau berbicara lagi denganmu."

Luhan pergi meninggalkan Chanyeol. Pergi dengan perasaan kesal terhadap Park Chanyeol yang terus saja berbicara tentang makhluk yang jelas-jelas tidak ada wujudnya bagi Luhan.
-
-
Skip Time
-
-
Sekarang Luhan, Sehun, dan Chanyeol sudah berada dirumah Baekhyun. Sebaiknya sekarang harus ada yang menghalangi seorang Park Chanyeol untuk bertemu dengan malaikat yang dia mimpikan. Bagaimana tidak, sekarang Chanyeol berlari menuju kamar Baekhyun untuk bertemu dengan malaikatnya dengan semangat. Tapi bukan Baekhyun namanya bila dia tidak bisa menghentikan Chanyeol. "Park Chanyeol! Kembali kau! Kau jangan coba-coba masuk ke kamarku tanpa seizinku. Kembali kebawah!" Suara Baekhyun yang kencang langsung membuat Chanyeol turun dengan menutup kedua telinganya. Kini Chanyeol sudah duduk manis disamping Baekhyun dengan wajah cemberut. "Anak pintar. Duduklah yang manis dulu." Baekhyun memberikan senyuman manis pada Chanyeol.

"Baiklah. Aku tidak ingin menghabiskan waktu ku dengan sia-sia sekarang. Kata Chanyeol dia kemarin bertemu dengan malaikat impiannya dan sekarang dia berada dirumahmu. Aku tidak melihatnya. Dia dimana?" Luhan berkata tanpa basi-basi sedikitpun. "Jadi dia yang mengatakannya. Baiklah, sekarang dia ada dikamarku. Dari kemarin sampai sekarang dia belum sadar juga. Aku takut kalau dia sudah......" Belum selesai Baekhyun berkata Chanyeol sudah menyahutinya. "Andwae!! Andwae!! Dia tidak boleh mati!" Baekhyun, Luhan, dan Sehun langsung menutup telinga mereka mendengar teriakan Chanyeol. "Yakk Park Chanyeol! Kau ingin mati ya?" Perkataan Baekhyun sukses membuat Chanyeol langsung menutup mulutnya.

"Sekarang ikut aku ke kamar. Aku akan menujukkannya pada kalian berdua." Baekhyun berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Disusul dengan Luhan, Sehun, dan Chanyeol dibelakangnya. Baekhyun membuka pelan pintu kamarnya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Duduk disamping tempat tidur dan menatap yeoja yang sekarang berada ditempat tidurnya. Masih tetap dengan mata yang tertutup. Baekhyun hanya menghela napas beratnya. Chanyeol menepuk pundak Baekhyun pelan. Memberikan semangat padanya. "Sudahlah Baekhyun-ah, dia pasti akan segera sadar setelah ini." Baekhyun hanya mengangguk pelan.

"Bagaimana hyung, kau sudah percaya denganku sekarang?" Bisik Chanyeol yang diakhir dengan tawa kecilnya. Seperti mengejek Luhan. Luhan dan Sehun hanya diam dan melongo melihat yeoja yang sedang terbaring ditempat tidur milik Baekhyun. "Dia sangat cantik hyung." Suara Sehun mengagetkan Luhan. "Benar. Dia sangat cantik." Entah ada angin apa kini Luhan menampakkan senyumnya. Senyum manis saat dia melihat wajah malaikat es itu. "Sepertinya aku menyukainya hyung. Dia sudah membuatku jatuh hati padanya sekarang." Perkataan Sehun membuat Luhan, Chanyeol, dan Baekhyun sukses membulatkan mata mereka.

"Eeuuung..." Suara erangan kecil terdengar dibalik mulut si malaikat. Kini mereka berempat fokus melihat kearah malaikat yang kini sudah membuka matanya. Baekhyun dan Chanyeol tersenyum senang melihat yeoja yang disangka tidak akan bangun kini sudah membuka matanya. "Aku ada dimana ini?" Malaikat itu mengerjapkan matanya karena asing dengan pemandangan yang ada disekitarnya. "Kau ada dirumahku sekarang." Kata Baekhyun. "Kalian siapa? Mengapa aku bisa berada disini? Dan..." Si malaikat bangun tetapi tertahan karena dia merasakan sakit dipunggungnya. "Aahhh..." Tangannya memegang punggungnya. "Apakah punggungmu sakit? Kau tidak apa-apa kan?" Kini nada Chanyeol terlihat begitu khawatir. "Berbaringlah bila kau masih sakit." Baekhyun tersenyum padanya. Si malaikat hanya menggeleng pelan. Kini dia melihat satu persatu wajah yang belum familiar baginya tetapi dia begitu terkejut melihat Luhan dan Sehun. "Kalian berdua mengapa ada disini?" Si malaikat menunjuk kearah Luhan dan Sehun. "Apakah kalian berdua masih ingin mengejarku huh? Baiklah aku menyerah sekarang. Kalian sudah membuat satu sayapku patah dan sekarang aku tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan dan pergi dari kalian berdua." Mereka berempat hanya bisa melongo dan saling memandang satu sama lainnya karena tidak mengerti dengan apa yang si malaikat bicarakan.

Si malaikat kini berdiri. "Jadi sekarang kalian menyamar sebagai seorang siswa sekolahan huh? Penyamaran kalian benar-benar sungguh mengejutkanku." Saat berdiri badannya terlihat seperti akan ambruk. Luhan dan Sehun hanya bisa saling menatap satu sama lain. "Apakah kau mengenal Luhan hyung dan Sehunnie?" Kini Baekhyun memberanikan diri bertanya padanya. Si malaikat berjalan mendekat kearah Luhan. Tersenyum pada Luhan. Senyuman itu sukses membuat Luhan membeku. Jantungnya kini berdebar dengan kencang. "Luhan. Tentu aku mengenalnya. Karena aku dan dia adalah......" Belum sempat meneruskan perkataannya, si malaikat kini pingsan dipelukan Luhan. Luhan sekarang memeluknya tanpa dia sadari. "Yakk Luhan hyung lepaskan dia." Chanyeol langsung melepaskan si malaikat dari pelukan Luhan dan membaringkannya kembali ketempat tidur Baekhyun. "Lebih baik kita keluar saja. Biarkan dia istirahat. Mungkin dia masih sedikit pusing. Kajja kita keluar." Ajak Baekhyun dan mereka berempat kini meninggalkan si malaikat sendirian dikamar Baekhyun.

Diruang tamu mereka berempat masih terdiam. Memikirkan kejadian yang terjadi di kamar Baekhyun barusan. Memikirkan perkataan si malaikat yang tidak mereka mengerti. "Apakah kalian berdua mengenal dia? Mengapa dia berbicara seperti itu pada kalian berdua tadi?" Pembicaraan dibuka dengan pertanyaan Baekhyun yang dijawab oleh Luhan dan Sehun dengan gelengan kepala. "Sepertinya malaikatku begitu mengenal kalian berdua. Dan tadi dia berkata dia mengenal Luhan hyung tapi dia tidak meneruskan perkataannya dan tiba-tiba dia pingsan." Chanyeol menyahuti. "Benar. Ini benar-benar aneh sekali. Kita harus menunggunya sampai dia sadar dulu lagi. Setelah itu kita akan menanyakan dia lebih lanjut." Luhan, Chanyeol, dan Baekhyun mengangguk setuju dengan perkataan Sehun.
-
-
Keesokan harinya
-
-
"Benar. Aku sedang mencarinya. Tapi sampai sekarang aku belum menemukan kehadirannya. Bagaimana dengan dia? Apakah kau sudah menemukannya?"

"Aku sudah nemukannya. Seseorang menolongnya. Tapi sepertinya orang yang menolong dia adalah teman satu sekolahmu. Byun Baekhyun. Dia sudah bertemu dengan mereka berdua."

"Byun Baekhyun. Baiklah aku akan menemuinya. Kau tenang saja hyung, aku akan membawa dia kembali."

"Luhan dan Sehun, bisakah kau menyingkirkan mereka? Aku tidak suka melihat mereka berdua berkeliaran disekitarnya."

"Tapi aku tidak yakin kalau mereka berdua adalah reincarnasi dari orang-orang itu. Luhan hyung dan Sehunnie adalah orang yang baik. Sifat mereka begitu bertolak belakang dengan orang-orang itu."

"Jangan melihat buku dari covernya Suho-yah. Kau tidak akan tahu bagaimana mereka berdua dibelakangmu."

"Baiklah hyung aku akan melakukan yang terbaik sebisaku. Aku tutup dulu." Suho menutup teleponnya. Dia melihat Luhan yang sedang asik dengan handphonenya dan menghampiri Luhan.

"Kau tidak seperti biasanya hyung." Luhan menoleh mendapati Suho sudah duduk disampingnya sekarang. Dia melemparkan sebuah senyuman manis pada Suho. "Woow..baru kali ini aku melihat senyum seperti itu." Luhan hanya terkekeh. "Seseorang sudah membuatku menjadi seperti ini. Dia sudah membuatku selalu tersenyum sendiri seperti orang gila." Luhan terus saja menampakkan senyuman di wajah tampannya. "Apakah kau sekarang sedang jatuh cinta hyung? Siapakah yeoja itu? Bolehkah aku tahu siapa dia?" Suho menggoda Luhan. "Aku tidak tahu apakah ini disebut dengan jatuh cinta atau tidak. Tapi setiap kali aku memikirkannya dan membayangkan wajahnya, jantungku berdebar terus dan tanpa kusadari aku tersenyum sendiri seperti orang gila." Luhan tertawa kecil melihat tingkahnya sendiri. "Jika kau ingin tahu siapa yeoja itu, hari ini sepulang sekolah ikutlah ke rumah Baekhyun. Dia benar-benar sangat cantik." Tambah Luhan. "Baiklah aku akan ikut nanti." Suho tersenyum. Senyuman manis yang Luhan tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi hari ini.
-
-
Skip Time
-
-
Sekarang Suho sudah berada dirumah Baekhyun. Dia merasakan sebuah aura yang begitu familiar baginya. 'Benar. Dia ada disini.' Batin Suho. "Aku tidak menyangka bahwa Suho oppa juga ikut kemari." Baekhyun menyunggingkan senyuman manis padanya. Suho membalas senyuman Baekhyun. "Luhan hyung yang mengajakku kemari. Lagi pula aku juga penasaran dengan yeoja yang sudah membuat Luhan hyung gila." Suho tertawa melirik Luhan hyung yang terlihat malu. "Baiklah lebih baik sekarang kita ke kamar ku saja. Kajja." Kini mereka berlima berjalan menaiki tangga menuju kamar Baekhyun.

Saat Baekhyun membuka kamarnya, si malaikat ternyata sudah bangun. Dia menyandarkan tubuhnya. Baekhyun langsung berlari kecil menghampirinya. Suho terkejut melihat yeoja yang sekarang sedang berbicara dengan Baekhyun. 'Noona.' Suho tetap santai meskipun sekarang perasaanya bercampur aduk menjadi satu. Bahagia, sedih, marah. Itulah yang Suho rasakan saat ini. "Kau kenapa?" Tanya Baekhyun. "Aku merasakan kehadirannya. Aku begitu merindukannya." Si malaikat melihat satu per satu wajah yang sedang menatapnya sekarang. Dia bangun dari tempat tidur, berjalan pelan menuju kearah Sehun yang sedang berdiri membelakangi Suho. "Suho. Kau benar Suho kan?" Suho menampakkan dirinya sekarang. Si malaikat terkejut dan langsung memeluk Suho dengan bahagia. "Ternyata benar ini kau. Suho-yah aku begitu merindukanmu. Mengapa kau pergi meninggalkanku disaat aku membutuhkanmu?" Kini si malaikat mulai menangis. Luhan, Sehun, Chanyeol, dan Baekhyun terkejut dan hanya bisa melongo melihat kejadian yang aneh terjadi lagi. Suho melepaskan pelukannya dan menghapus air mata si malaikat yang mengalir deras membanjiri pipinya. Suho hanya tersenyum melihat orang yang sekarang ada dihadapannya. "Uljimayo noona." Mata mereka berempat kini membulat mendengar perkataan Suho. "Sepertinya seseorang harus menjelaskan ini semua." Kata Baekhyun melirik kearah Suho. Baekhyun berjalan pergi meninggalkan kamarnya disusul Luhan, Sehun, dan Chanyeol yang mengekor dibelakang Baekhyun.

Dikamar Baekhyun kini hanya ada Suho dan si malaikat. Si malaikat tetap saja menangis. Tetesan air matanya yang berubah menjadi beku setiap kali tetesannya jatuh membasahi telapak tangannya.

"Jangan menangis terus noona. Apakah kau ingin membuat kamar ini penuh dengan tetesan air mata bekumu?"

Mendengar perkataan Suho seperti itu membuat si malaikat tertawa dan menghentikan tangisnya. Kembali dia memeluk Suho. Kali ini lebih erat.

"Sayapmu? Apakah noona benar-benar tidak apa-apa?"

"Aku merasakan tubuhku semakin lemah. Sayapku sepertinya sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Aku merasakan sayapku semakin hari semakin mencair."

"Labih baik noona kembali saja. Aku akan mengantarmu pulang sekarang."

"Apakah oppa yang menyuruhmu untuk membawaku kembali?"

"Tentu saja. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Terlebih saat noona pergi dari rumah dan orang-orang itu mengejarmu."

"Dia selalu saja seperti itu. Sepertinya kau juga menyamar seperti mereka. Seragam yang kau gunakan sama dan kau datang bersama dengan mereka kemari."

"Memang benar aku menyamar sekarang. Dan tentang mereka berdua, mereka adalah temanku noona. Tapi sepertinya mereka adalah reincarnasi dari orang-orang itu."

"Reincarnasi? Apa maksudmu dengan reincarnasi?"

"Saat orang-orang itu mengejarmu, Luhan dan Sehun telah mati dibunuh oleh kawanan mereka sendiri. Semuanya tidak tahu mengapa mereka melakukan itu pada mereka berdua. Tapi sepertinya sebelum Luhan dibunuh, bukankah dia sudah mengambil kalungmu noona?"

"Jadi begitu. Benar dia telah mengambil kalung ku. Sekarang aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah kau sudah menemukan dia?"

"Belum. Sampai sekarang aku dan hyung masih terus mencari keberadaannya. Kau tenang saja noona. Aku pasti akan menemukan dia dan noona pasti akan segera sembuh. Aku berjanji."

Si malaikat melepaskan pelukannya. Memandang Suho dengan mata coklatnya. Membelai lembut pipi Suho dengan tangan yang dingin. "Aku akan memegang janjimu itu. Aku akan menunggunya." Suho tersenyum mendengarnya. "Baiklah. Sepertinya sekarang teman-temanku sudah menunggu kita dibawah. Kajja noona kita turun." Ajak Suho. Si malaikat terdiam sebentar.

"Apakah kau akan menceritakan pada mereka?"

"Tentu saja. Mereka sudah menyelamatkan hidupmu dan mereka sudah tahu kalau noona itu bukan manusia."

Suho menggenggam tangan si malaikat. "Kau tenang saja noona. Mereka adalah orang yang baik. Mereka tidak akan menyakitimu seperti orang-orang itu. Percayalah kepadaku noona." Si malaikat hanya tersenyum. "Baiklah. Aku percaya padamu. Kajja kita turun."

Suho dan si malaikat kini sudah berada dibawah berabung dengan mereka berempat. "Bisakah kalian berdua jelaskan apa maksud dari semua ini." Kini Baekhyun sudah tidak sabar lagi dengan kejadian aneh yang terjadi selama dua hari berturut-turut. "Sebelumnya aku ingin tahu siapa namamu?" Tanya Chanyeol. Si malaikat kini menoleh kearah Suho sebentar dan kini dia mulai memperkenalkan dirinya. "Namaku adalah Kim Minseok. Kalian bisa memanggilku Xiumin. Aku minta maaf sudah merepotkan kalian semua. Kalian pasti berpikir bahwa aku ini gila. Tapi aku berterima kasih karena kalian sudah menolongku. Terutama kau, Byun Baekhyun. Terima kasih kau sudah merawatku selama ini." Baekhyun yang disebut namanya kini tersipu malu. "Sama-sama Xiumin-ssi. Tapi kau tahu darimana bahwa namaku adalah Byun Baekhyun?" Xiumin hanya tersenyum mendengar pertanyaan Baekhyun. "Tentu saja aku tahu. Semenjak kau menyentuhku saat menolongku aku sudah tahu." Kini dia menunjuk satu per satu kearah mereka berempat.

Pertama dia menunjuk kearah Baekhyun. "Namamu adalah Byun Baekhyun. Kau teman satu kelas Park Chanyeol dan kau menyukainya sudah sejak kalian berada dibangku junior high school." Baekhyun kaget mendengar penuturan Xiumin dan itu sukses membuat wajah Baekhyun memerah karena malu. Kini dia beralih menunjuk kearah Chanyeol. "Namamu adalah Park Chanyeol. Kau menyukai Baekhyun sejak junior high school. Dan kau begitu tergila-gila dengan malaikat bersayap es." Suara Xiumin sedikit mengecil. Suho yang mendengar hanya bisa tertawa. "Aku tidak menyangka noona memiliki fans." Bisik Suho. Xiumin kini menunjuk kearah Luhan dan Sehun. Dia terdiam sebentar. "Kalian berdua adalah Luhan dan Sehun. Luhan adalah teman sekelas Suho dan Sehun adalah teman sekelas Baekhyun dan Chanyeol. Kalian berdua menyukai orang yang sama. Dan orang itu adalah......" Suho tiba-tiba mencela perkataan Xiumin. "Sudahlah noona tidak usah kau lanjutkan. Sekarang aku akan menceritakannya kepada kalian semua."

Xiumin hanya bisa terdiam dan menundukkan kepalanya. Mereka berempat kini lebih fokus dengan perkataan Suho. Sepertinya mereka sudah melupakan perkataan Xiumin tadi bahwa Luhan dan Sehun menyukai orang yang sama. Mereka sepertinya sudah melupakan tentang pertanyaan yang akan mereka tanyakan pada Xiumin, 'siapakah yeoja yang Luhan dan Sehun sukai?' Mereka sudah tersihir dengan perkataan Suho dan melupakan perkataan Xiumin.
-
-
-
-

Lanjut di chapter selanjutnya yaa...

Pai~pai~ *aegyeo bareng Xiumin oppa*